Bursa Global Terkapar, IHSG Ditutup Turun Lebih dari 1 Persen

Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut dengan turun lebih dari 1 persen pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (2/10/2019), di tengah pelemahan pasar saham global
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 02 Oktober 2019  |  16:43 WIB
Bursa Global Terkapar, IHSG Ditutup Turun Lebih dari 1 Persen
Karyawan melintas di dekat layar penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut dengan turun lebih dari 1 persen pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (2/10/2019), di tengah pelemahan pasar saham global

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup di level 6.055,42 dengan melorot 1,35 persen atau 82,82 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (1/10), IHSG berakhir di level 6.138,25 dengan pelemahan 0,50 persen atau 30,85 poin, koreksi hari ketiga berturut-turut.

Indeks mulai melanjutkan pelemahannya ketika dibuka turun 0,22 persen atau 13,81 poin di level 6.124,44 pada Rabu pagi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.051,69 – 6.153,99.

Seluruh sembilan sektor berakhir di zona merah, dipimpin tambang (-1,80 persen), finansial (-1,55 persen), dan properti (-1,45 persen).

Dari 655 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 116 saham menguat, 313 saham melemah, dan 226 saham stagnan.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang masing-masing turun 5,43 persen dan 3,44 persen menjadi penekan utama berlanjutnya pelemahan IHSG.

Menurut tim riset Samuel Sekuritas Indonesia, IHSG kembali terkoreksi mengikuti pergerakan bursa regional di tengah sejumlah sentimen negatif eksternal, di antaranya data manufaktur AS yang menambah kekhawatiran tentang ekonomi Negeri Paman Sam.

Indeks ISM manufaktur PMI September berada pada level 47,8, terendah sejak Juni 2009 dan merupakan bulan kedua data tersebut berada di zona kontraksi.

Selain itu, indeks pesanan ekspor baru juga hanya berada di level 41,0, turun dari 43,3 pada Agustus 2019 sekaligus merupakan data terendah sejak Maret 2009.

Di sisi lain, WTO memangkas outlook ekonomi 2019 menjadi 1,2 persen yoy. Pemangkasan ini turun tajam dari proyeksi pada bulan April sebesar 2,6 persen.

Menurut WTO, penyebab utama rendahnya pertumbuhan dunia disebabkan berlarut-larutnya perang dagang AS dan China. Konflik kedua negara membuat dunia usaha menunda rencana ekspansinya.

Bersama IHSG, indeks saham lainnya pun rata-rata mengakhiri pergerakannya di zona merah hari ini. Indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang ditutup turun 0,49 persen dan 0,42.

Adapun indeks Kospi Korea Selatan merosot 1,95 persen dan indeks Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,19 persen, saat aktivitas perdagangan pasar saham di China ditutup karena libur.

Bursa Asia kompak melemah bersama bursa Eropa dan indeks futures Amerika Serikat (AS), ketika investor menantikan petunjuk lebih lanjut tentang kondisi perekonomian AS pascarilis data manufaktur yang mengecewakan.

Rilis data tersebut menambah kerisauan investor yang sudah terbebani kontraksi aktivitas manufaktur di zona euro dengan laju tertajam dalam hampir tujuh tahun.

Data tersebut juga meningkatkan kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan dunia di tengah perang perdagangan AS-China, sehingga memicu spekulasi baru mengenai pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini.

“Untuk bulan Oktober saya pikir kita akan terus melihat tekanan yang tak menyusut dalam hal risiko terhadap pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan global,” ujar Terri Spath, chief investment officer di Sierra Investment Management Inc., kepada Bloomberg TV.

Berbanding terbalik dengan IHSG, nilai tukar rupiah berhasil bangkit dari pelemahannya dan ditutup terapresiasi 19 poin atau 0,13 persen di level Rp14.197 per dolar AS, setelah tertekan selama tujuh hari perdagangan beruntun sebelumnya.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, terpantau menguat 0,25 persen atau 0,252 poin ke level 99,380. Pada Selasa (1/10), indeks dolar ditutup melemah 0,249 poin di posisi 99,128.

Dilansir dari Reuters, pergerakan dolar AS dipengaruhi pelemahan di sektor manufaktur AS yang membuka peluang pemangkasan lebih lanjut oleh The Fed tahun ini.

Data menunjukkan sektor manufaktur AS mengalami kontraksi pada September 2019, ke level terlemah dalam lebih dari satu dekade karena kondisi bisnis memburuk di tengah ketegangan perdagangan antara AS dan China yang berlarut-larut.

Dolar AS juga tertekan oleh laporan yang menunjukkan pengeluaran konstruksi AS hampir tidak naik pada periode Agustus 2019. Kendati demikian, prospek greenback diprediksi masih tetap solid.

Menurut pedagang valas di Tempus Inc. Juan Perez, meskipun The Fed dapat menurunkan suku bunga acuannya, dolar AS tidak akan benar-benar kehilangan kekuatannya karena efek domino dari pemangkasan suku bunga The Fed.

“Semua bank sentral akan mengikuti The Fed dalam memangkas suku bunga, dengan ekonomi yang tumbuh 2 persen setiap kuartal sementara seluruh dunia sedang berjuang, dolar AS tampaknya masih menjadi aset yang lebih aman," ujarnya.

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

BMRI

-5,43

BBRI

-3,44

HMSP

-2,61

BBNI

-4,81

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

SMMA

+13,42

ICBP

+2,31

BRPT

+3,08

TCPI

+6,92

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top