IHSG & Rupiah Ditutup Melemah Lagi, Ini Faktor Penekannya

Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Senin (30/9/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 30 September 2019  |  16:38 WIB
IHSG & Rupiah Ditutup Melemah Lagi, Ini Faktor Penekannya
Karyawan berada di depan papan elektronik yang menampilkan harga saham di Jakarta, Senin (22/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Senin (30/9/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup di level 6.169,1 dengan melemah 0,45 persen atau 27,79 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Jumat (27/9), IHSG berakhir di level 6.196,89 dengan penurunan 0,54 persen atau 33,44 poin.

Indeks mulai melanjutkan pelemahannya ketika dibuka turun 0,11 persen atau 6,52 poin di level 6.190,37 pada Senin pagi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.152,50 – 6.195,73.

Tujuh dari sembilan sektor berakhir di zona merah, dipimpin tambang (-1,15 persen) dan finansial (-0,88 persen). Adapun sektor pertanian dan perdagangan masing-masing mampu ditutup naik 1,61 persen dan 0,52 persen.

Dari 655 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 165 saham menguat, 258 saham melemah, dan 232 saham stagnan.

Saham PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang masing-masing turun 19,45 persen dan 1,44 persen menjadi penekan utama berlanjutnya pelemahan IHSG.

Aksi jual bersih oleh investor asing pun berlanjut pada perdagangan hari kedua berturut-turut. Berdasarkan data BEI, investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp68,91 miliar, setelah mencatat net sell sekitar Rp338,59 miliar pada perdagangan Jumat (27/9).

Menurut tim riset Samuel Sekuritas Indonesia, IHSG terdampak sentimen negatif baik dari dalam dan luar negeri, di antaranya perang dagang Amerika Serikat dan China yang masih juga belum menemukan titik temu.

Indeks juga dipengaruhi isu pemakzulan Presiden AS Donald Trump. Trump dituduh melakukan penyalahgunaan wewenang sehingga Parlemen AS menyusun penyelidikan mosi tidak percaya.

“Untuk  situasi politik di Indonesia juga patut diwaspadai. Gejolak politik dan demonstrasi terkait penolakan RUU KUHP dan RUU KPK dapat menjadi katalis negatif yang memperberat laju IHSG,” tambah Samuel Sekuritas, dikutip dari riset hariannya.

Sejalan dengan IHSG, mayoritas indeks saham di Asia berakhir di zona negatif. Indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang masing-masing melemah 0,56 persen dan 1,03 persen. Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing berakhir melemah 0,92 persen dan 0,99 persen.

Secara keseluruhan, bursa Asia kompak melemah bersama bursa Eropa di tengah eskalasi terbaru dalam perselisihan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Dilansir dari Bloomberg, pasar saham Jepang merosot setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk membatasi akses China ke pasar keuangan AS.

Bursa saham di China pun melemah pada sesi perdagangan terakhir sebelum libur nasional selama sepekan, meskipun nilai tukar yuan offshore menguat tipis.

Pemerintah AS menyatakan tidak memiliki rencana untuk memblokir perusahaan-perusahaan China di bursa AS. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul kabar bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan melakukan delisting atas perusahaan-perusahaan China di bursa AS.

Meski demikian, kabar tersebut tetap membuat investor kembali diliputi oleh ketidakpastian perdagangan. Menurut Citigroup, pembatasan akses ke pasar keuangan AS akan menjadi langkah paling potensial dari AS terhadap China.

Pada Senin (30/9), pemerintah China pun menegaskan akan terus membuka pasar keuangannya dan mendorong investasi asing.

"Pasar ekuitas telah menyerap banyak hal dalam 12-18 bulan terakhir, namun berita seperti ini tidak bagus untuk kepercayaan,” ujar Jun Bei Liu, fund manager di Tribeca Investment Partners Ltd., kepada Bloomberg TV di Sydney.

“Wacana tentang pembatasan aliran investasi bahkan akan menjadi pencegah yang berarti bagi segala jenis rekonsiliasi dalam hal prospek perdagangan,” tambahnya.

Bersama IHSG, nilai tukar rupiah ditutup melemah 22 poin atau 0,16 persen di level Rp14.195 per dolar AS, depresiasi hari perdagangan keenam berturut-turut.

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan isu perang dagang masih akan menjadi penghalang penguatan rupiah pada perdagangan pekan ini.

Sependapat, Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee juga mengatakan bahwa ketidakpastian perang dagang masih akan membayangi pasar pada perdagangan pekan ini.

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

SMMA

-19,45

BBRI

-1,44

UNVR

-1,06

EMTK

-8,02

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

AMRT

+7,57

CPIN

+2,88

MEGA

+6,19

CMNP

+24,54

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top