Dampak Pemangkasan Suku Bunga Belum Terasa di Pasar Saham

Dampak positif yang diharapkan dari pemangkasan suku bunga pada pekan ini dinilai tak akan langsung terasa di pasar saham.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 20 September 2019  |  18:23 WIB
Dampak Pemangkasan Suku Bunga Belum Terasa di Pasar Saham
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA--Dampak positif yang diharapkan dari pemangkasan suku bunga pada pekan ini dinilai tak akan langsung terasa di pasar saham.

Mengakhiri perdagangan Jumat (20/9/2019), sehari setelah BI menurunkan suku bunga acuan ke level 5,25 persen, IHSG masih bertahan di zona merah dengan pelemahan 0,21 persen ke level 6.231. Selama sepekan, indeks tertekan 1,63 persen.

Analis MNC Sekuritas Muhamad Rudy Setiawan menjelaskan pemangkasan suku bunga yang dilakukan Bank Sentral AS (Federal Reserve) yang diikuti oleh Bank Indonesia (BI) pada Kamis (19/9/2019) memang tak akan secara langsung berdampak ke pasar saham.

Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga sebanyak 3 kali pada tahun ini, sehingga 7-Day Reserve Repo Rate kini berada di level 5,25 persen.

“Harus tetap melihat dari perkembangan industri yang terjadi pada sisa akhir tahun ini, sampai dengan semester I/2020,” kata Rudy kepada Bisnis.

Pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral AS (Federal Reserve) yang diikuti oleh Bank Indonesia (BI) dipandang lebih sebagai langkah untuk mencegah ancaman risiko resesi global sebagai akibat dari perang dagang AS—China. Penurunan suku bunga tersebut juga telah diantisipasi dan sesuai dengan perkiraan pelaku pasar. 

Di tengah ancaman perlambatan global, bank sentral utama dunia mulai memangkas suku bunga untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi. Pekan lalu, Bank Sentral Eropa (European Central Bank) telah lebih dulu memotong suku bunga ke zona negatif sebesar -0,50 persen.

Sejauh ini perlambatan pertumbuhan ekonomi global mulai terlihat dari melemahnya data makroekonomi seperti hasil industri (output) di China yang hanya tumbuh 4,4 persen secara tahunan (year-on-year) atau terendah sejak 17 tahun terakhir.

Selain itu, Bank Dunia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun ini hanya akan sebesar 2,9 persen dan terus akan melambat pada tahun depan menjadi 2,8 persen.

Dari dalam negeri, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) paruh pertama tahun ini yang hanya tumbuh 5,05 persen dari posisi 5,27 persen pada periode yang sama tahun lalu juga memperlihatkan bahwa melesunya ekonomi global mulai terasa.

Sementara itu, Analis Bahana Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan, pelemahan IHSG juga tertekan oleh arus modal keluar (foreign capital outflow). Pasalnya, investor asing cenderung melakukan flight-to-safety atau mengamankan asetnya ke negara maju, seperti AS, yang dinilai lebih aman. 

Selain itu, pelemahan harga komoditas juga menjadi pemberat langkah emiten komoditas. Pasalnya, ekspor komoditas Indonesia masih besar, seperti minyak sawit, nikel, dan timah. Selain itu, dampak penyerangan kilang minyak di Arab Saudi juga turut mengancam defisit neraca berjalan (CAD) Indonesia.

“[Pelemahan] dari sisi harga komoditas, ketika FFR diturunkan 25 bps, kami juga lihat emiten komoditas rata-rata turun kecuali mineral,” tutur Wafi.

Wafi memperkirakan ke depannya masih terbuka kemungkinan untuk bank sentral kembali memangkas suku bunga. Adapun, The Fed diperkirakan masih berpotensi menurunkan suku bunga sebanyak 1 kali lagi menjelang akhir tahun. 

“Kemungkinan hanya 1 kali lagi saja. Total [tahun ini] 3 kali,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top