IHSG & Rupiah Sama-sama Menguat Nantikan Putusan The Fed dan BI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan penguatannya pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Rabu (18/9/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 18 September 2019  |  16:36 WIB
IHSG & Rupiah Sama-sama Menguat Nantikan Putusan The Fed dan BI
Pengunjung beraktivitas di dekat papan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/7/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan penguatannya pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Rabu (18/9/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup menguat 0,64 persen atau 39,94 poin di level 6.276,63 dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Selasa (17/9), IHSG berakhir di level 6.236,69 dengan kenaikan 0,28 persen atau 17,25 poin.

Penguatan indeks mulai berlanjut dengan dibuka naik tipis 0,03 persen atau 2,01 poin di level 6.238,7 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.236,48 – 6.270,4.

Enam dari sembilan sektor berakhir di zona hijau, dipimpin aneka industri (+2,70 persen) dan finansial (+1,06 persen). Tiga sektor lainnya ditutup di zona merah, dipimpin pertanian yang turun 0,98 persen.

Dari 653 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 203 saham menguat, 189 saham melemah, dan 261 saham stagnan.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Astra International Tbk. (ASII) yang masing-masing naik 3,23 persen dan 3,47 persen menjadi penopang utama penguatan IHSG.

Menurut tim riset Samuel Sekuritas Indonesia, pergerakan IHSG hari ini dipengaruhi oleh aksi wait and see para pelaku pasar atas kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) dan Bank Indonesia.

“Pelaku pasar sedang menantikan keputusan apakah Federal Reserve akan kembali memangkas suku bunganya sebesar 25 bps pada hari Kamis (19 September dini hari WIB),” jelas Samuel Sekuritas melalui riset hariannya.

Gubernur The Fed, Jerome Powell sebelumnya telah mengisyaratkan penurunan suku bunga di tengah melemahnya kinerja ekonomi dan meningkatnya risiko pertumbuhan. Pelaku pasar juga menunggu petunjuk dari The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga di masa mendatang.

Di dalam negeri, pasar akan menantikan rilis kebijakan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI). Bank Indonesia diprediksi kembali memangkas suku bunga acuan atau BI 7-Day Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin pada Kamis (19/9).

Hal ini sejalan dengan estimasi media ekonom dalam survei Bloomberg untuk pemangkasan menjadi 5,25 persen.

“Meski masih menunggu sinyal The Fed nanti malam tetapi kemungkinan turun lagi menjadi 5,25 persen,” terang Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro kepada Bisnis.

Andry memerinci bahwa dengan kondisi inflasi dalam negeri yang terkendali, BI memiliki ruang untuk kembali memangkas suku bunga guna menurunkan cost of borrowings perusahaan.

Nilai tukar rupiah pun hari ini berhasil ditutup menguat 33 poin atau 0,23 persen di level Rp14.067 per dolar AS, setelah lunglai selama dua hari perdagangan berturut-turut sebelumnya. Padahal, pada saat yang sama, indeks dolar AS terpantau naik 0,20 persen atau 0,192 poin ke posisi 98,453.

Sementara itu, pasar saham global berakhir variatif, menjelang rilis keputusan The Fed yang diantisipasi akan kembali memangkas suku bunga acuannya.

Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing ditutup turun 0,49 persen dan 0,18 persen. Namun indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing mampu berakhir naik 0,25 persen dan 0,48 persen.

Meski The Fed hampir bisa dipastikan akan kembali menurunkan suku bunganya sebesar 25 basis poin, investor menunggu pernyataan dan proyeksi ekonomi dari para pembuat kebijakan The Fed, mengingat adanya tanda-tanda pandangan yang terbagi di antara mereka.

“Pelaku pasar saat ini sangat berhati-hati. Mereka sedang menunggu pertemuan The Fed dan potensi perkembangan baru di Arab Saudi,” ujar Christophe Barraud dari Market Securities di Paris.

“Untuk pertemuan The Fed, pasar tidak bertaruh untuk kejutan positif yang besar,” tambahnya, seperti dikutip dari Reuters.

Harga minyak bergerak stabil setelah terjungkal pada perdagangan Selasa (17/9/2019). Saudi Aramco mengatakan telah menghidupkan kembali 41 persen kapasitas di kompleks pemrosesan minyak mentah utamanya.

Langkah tersebut berhasil dilakukan hanya beberapa hari setelah serangan udara menghancurkan kilang Saudi Aramco pada Sabtu (14/9). Kondisi ini pun mengguncang pasar energi global dan mendongkrak kenaikan harga minyak secara tajam pada Senin (16/9).

Sementara itu, kekhawatiran tentang ketegangan perdagangan tampak berlarut-larut. Tim perunding AS dan China akan memulai kembali perundingan menjelang pertemuan para pejabat pemerintahan level atas pada awal Oktober di Washington.

Perang perdagangan AS dan China yang sedang berlangsung telah meningkatkan kekhawatiran para pembuat kebijakan tentang melambatnya produksi manufaktur meskipun konsumsi domestik yang tangguh telah memberi beberapa alasan untuk mengkhawatirkan pemotongan suku bunga yang terlalu cepat.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

BMRI

+3,23

ASII

+3,47

SMMA

+13,64

HMSP

+1,72

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

BRPT

-2,82

UNVR

-0,59

TLKM

-0,47

BYAN

-2,35

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top