OPEC Beri Harapan Palsu, Harga Minyak Terjungkal

Hingga pukul 17:47 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,77% atau 0,44 oin ke posisi US$55,33 per barel.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 12 September 2019  |  19:04 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak jatuh pada Kamis (12/9/2019) karena tak ada langkah konkret dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya soal pemangkasan produksi minyak.

Hingga pukul 17:47 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,77% atau 0,44 oin ke posisi US$55,33 per barel, sedangkan harga minyak mentah Brent turun 1,07% atau 0,65 poin ke posisi US$60,16 per barel.

Kedua harga acuan itu turun cukup dalam sehari sebelumnya, setelah muncul perkiraan Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan lebih lunak terhadap Iran. Bila hal itu benar terjadi, maka minyak Iran bisa kembali ke pasaran, sehingga berpotensi membuat pasokan di pasar berlimpah.

Sebuah pertemuan OPEC dan para sekutunya yang dipimpin oleh Rusia di Abu Dhabi, Kamis (12/9/2019), untuk mendiskusikan persetujuan pemangkasan mereka sebanyak 1,2 juta barel per hari, tidak menyinggung soal pemangkasan produksi lebih dalam.

Awalnya, pertemuan ini diperkirakan akan mendorong harga minyak, jika hasilnya OPEC dan sekutunya sepakat memangkas produksi minyak mereka lebih dalam.

Meski begitu, Menteri Perminyakan Oman Mohammed bin Hamad Al-Rumhy mengatakan, Nigeria dan Irak telah berjanji mematuhi sepenuhnya pemangkasan produksi tersebut pada Oktober. “Prospeknya tidak cukup baik pada 2020,” katanya.

Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan, diskusi tentang pemangkasan produksi lebih dalam akan diulas pada pertemuan berikutnya.

Sementara itu, turut membebani harga minyak, laporan International Energy Agency yang memperkirakan lonjakan produksi minyak AS bakal membuat keseimbangan pasar terlihat menakutkan pada tahun depan.

Badan yang berbasis di Paris, Prancis itu mempertahankan pertumbuhan permintaan minyak untuk tahun ini dan tahun depan, masing-masing sebesar 1,1 juta bph dan 1,3 juta bph.

Harga minyak sempat menguat di awal sesi, karena China dan Amerika Serikat membuat sejumlah kelonggaran jelang pertemuan yang direncakan beberapa hari mendatang.

Analis Minyak PVM Tamas Varga mengatakan, risiko untuk harga minyak turun saat ini diredam oleh redanya perang dagang AS dan China. “Cuma melunaknya relasi AS dan Iran akan mengubahnya [menjadi pelemahan],” katanya.

Di samping itu, ikut memberi penguatan laporan US Energy Information Administration yang mencatat, stok minyak mentah AS turun 6,9 juta barel pada pekan lalu menjadi 416,1 juta barel. Jumlah tersebut merupakan titik terendah sejak Oktober 2018.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top