Rupiah Terus Pukul Dolar, IHSG Tak Lagi Lesu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dari pelemahannya dan ditutup di zona hijau pada perdagangan hari ini, Jumat (23/8/2019), di tengah penguatan nilai tukar rupiah.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 23 Agustus 2019  |  16:30 WIB
Rupiah Terus Pukul Dolar, IHSG Tak Lagi Lesu
Karyawan melintas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/5/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dari pelemahannya dan ditutup di zona hijau pada perdagangan hari ini, Jumat (23/8/2019), di tengah penguatan nilai tukar rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG berakhir menguat 0,26 persen atau 16,35 poin di level 6.255,60 dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (22/8), IHSG berakhir di level 6.239,24 dengan pelemahan 0,22 persen atau 13,72 poin, penurunan hari ketiga berturut-turut.

Sebelum rebound, indeks sempat melanjutkan pelemahannya hingga ke ambang dasar level 6.200 setelah dibuka turun 0,18 persen atau 11,11 poin di posisi 6.228,13. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.204,19 – 6.255,60.

Enam dari sembilan sektor berakhir di wilayah positif, dipimpin aneka industri (+2,92 persen) dan tambang (+0,84 persen). Tiga sektor lainnya ditutup di zona merah, dipimpin infrastruktur yang turun 0,71 persen sekaligus membatasi besarnya kenaikan IHSG.

Dari 650 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 204 saham menguat, 189 saham melemah, dan 257 saham stagnan.

Saham PT Astra International Tbk. (ASII) dan PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) yang masing-masing naik 3,95 persen dan 1,16 persen menjadi pendorong utama penguatan IHSG.

Sementara itu, nilai tukar rupiah lanjut ditutup menguat 24 poin atau 0,17 persen di level Rp14.215 per dolar AS, penguatan hari ketiga berturut-turut. Pada perdagangan Kamis (22/8/2019), rupiah ditutup terapresiasi 5 poin atau 0,04 persen di posisi 14.239.

Padahal, pada saat yang sama, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, terpantau menanjak 0,180 poin atau 0,18 persen ke posisi 98,350.

Menurut Ekonom ING Nicholas Mapa, nilai tukar rupiah kemungkinan menerima bias apresiasi dalam jangka pendek karena pasar fokus pada prospek pertumbuhan untuk Indonesia.

Pada Kamis (22/8), Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) membuat kejutan dengan memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin ke level 5,50 persen di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Keputusan penurunan suku bunga acuan itu di luar dugaan mayoritas ekonomi yang memperkirakan bahwa BI akan mempertahankan suku bunga acuan di tengah terjaganya laju inflasi.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kebijakan tersebut konsisten dengan rendahnya perkiraan inflasi di bawah titik tengah, tetap menariknya imbal hasil aset keuangan domestik sehingga mendukung stabilitas eksternal, serta langkah preemptive untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari dampak perlambatan ekonomi global.

Kepala riset Asia dari ANZ Khoon Goh mengatakan, meskipun langkah penurunan suku bunga BI ini bertentangan dengan ekspektasi mayoritas analis, rupiah telah meresponsnya dengan baik.

“Dengan sebagian besar bank sentral dunia juga mengambil sikap pelonggaran, ini telah memberi BI ruang untuk memangkas suku bunga tanpa menyebabkan terlalu banyak volatilitas di dalam pasar keuangan dalam negeri,” terang Goh, dilansir dari Bloomberg.

“Mengingat masih adanya ruang bagi BI untuk melakukan pelonggaran lebih jauh, kemungkinan ini akan membantu menarik aliran masuk portofolio asing, yang pada gilirannya akan membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” lanjutnya.

Bersama IHSG, indeks saham lain di Asia mayoritas ikut berakhir di wilayah positif. Indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang menguat 0,40 persen dan 0,25 persen masing-masing. Namun indeks Kospi Korea Selatan berakhir turun 0,14 persen.

Di China, indeks saham Shanghai Composite dan CSI 300 menguat 0,49 persen dan 0,72 persen. Adapun indeks Hang Seng Hong Kong ditutup menguat 0,50 persen.

Bursa saham Asia mengalami kenaikan moderat, dengan bursa saham di Hong Kong dan China naik sementara pasar ekuitas di Korea Selatan turun tipis.

Perhatian pasar dipastikan akan tertuju pada pernyataan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell setelah sejumlah pembuat kebijakan Fed menyuarakan pertentangan mereka terhadap suku bunga yang lebih rendah.

Hampir sepanjang bulan ini pasar terpukul gejolak karena kekhawatiran atas perlambatan ekonomi global dan eskalasi perang perdagangan. Investor akan mencari petunjuk atas kemungkinan pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh The Fed.

Investor telah sepenuhnya memperhitungkan penurunan suku bunga lebih lanjut sebesar 25 basis poin dalam pertemuan kebijakan The Fed pada 17-18 September mendatang, setelah memangkas suku bunga acuan dengan besaran yang sama pada pertemuan 30-31 Juli.

Namun, keinginan berbeda dari beberapa pembuat kebijakan mungkin akan membatasi prospek untuk langkah lebih besar yang telah diadvokasi oleh sejumlah pihak, termasuk Presiden Donald Trump.

“Pasar menginginkan lebih daripada yang The Fed tawarkan,” ujar Alicia Levine, kepala strategi di Bank of New York Mellon Corp, kepada Bloomberg TV.

“Ada ketidaksepakatan nyata dalam FOMC (rapat The Fed) tentang di mana ekonomi AS sedang berada, dan khususnya fakta bahwa data [ekonomi] telah lebih kuat dari yang diharapkan. Ada keinginan agar Powell mengecewakan [ekspektasi] pasar,” jelasnya.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

ASII

+3,95

UNVR

+1,16

POLL

+12,36

TPIA

+1,82

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

TLKM

-1,57

HMSP

-0,69

BMRI

-0,69

ISAT

-7,37

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top