Sido Muncul (SIDO) Bidik Pendapatan Ekspor Rp180 Miliar

Dengan persentase kontribusi ekspor sebesar 6%, maka nilai pendapatan ekspor PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Mucul Tbk. (SIDO) sebesar Rp84,6 miliar pada Januari-Juni 2019.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  15:34 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Emiten obat-obatan herbal, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Mucul Tbk. akan mengekspor langsung produk herbal dan minuman energi drink ke pasar Asia Tenggara dan Nigeria dengan target pendapatan Rp180 miliar.

Direktur Sido Muncul Leonard mengatakan perseroan akan menginfiltrasi beberapa negara sekaligus pada semester II/2019. Beberapa negara tersebut di pasar Asia Tenggara, di antaranya adalah Malaysia, Vietnam dan Filipina, sedangkan untuk pasar Afrika yakni Nigeria.

“Sebenarnya kami sudah ekspor ke sana sejak beberapa waktu lalu. Tapi karena kontribusi pasar ekspor meningkat signifikan dari 2% ke 6% terhadap pendapatan tahun ini, jadi kami akan ekspor secara langsung,” katanya, baru-baru ini.

Leonard mengatakan perseroan selama ini ekspor melalui importir lokal. Akan tetapi, pasar ekspor mulai menggiurkan sehingga emiten berkode saham SIDO itu ingin fokus untuk menggarap pasar Asean dan Afrika.

Sebagai informasi, SIDO mencatatkan pendapatan sebesar Rp1,41 triliun pada semester I/2019 atau naik 11% dari raihan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,27 triliun.

Dengan persentase kontribusi ekspor sebesar 6%, maka nilai pendapatan ekspor SIDO sebesar Rp84,6 miliar pada Januari-Juni 2019. Leonard menyebut produk yang diterima oleh pasar ekspor adalah jamu kemasan dan minuman berenergi.

portofolio produk sido muncul

Hingga akhir 2019, perseroan membidik pendapatan sebesar Rp3 triliun pada akhir tahun dengan laba sebesar Rp726 miliar atau naik masing-masing 10% dibandingkan dengan tahun buku 2018.

Kendati demikian, Leonard tidak terlalu ambisius dengan menargetkan kontribusi pasar ekspor sampai dengan akhir tahun hanya sebesar 6%. Pasalnya, kontribusi pendapatan ekspor pada tahun-tahun sebelumnya hanya sekitar 2% dari total pendapatan.

Menurut Leonard, nilai kontribusi ekspor sekitar Rp180 miliar sampai dengan akhir tahun sudah cukup.

“Saat ini sudah cukup 6% dan kita mau stabilkan di angka tersebut. Kalau dulu kami tidak dukung dengan advertising tapi sekarang akan kita dukung supaya konsumsi perlahan naik,” sebutnya.

Leonard menambahkan pasar yang paling prospektif untuk digarap adalah Filipina karena ada kesamaan kultur, Malaysia karena pasar yang dekat dan Nigeria sebab produk SIDO sudah menjadi pilihan utama.

Selain itu, perseroan juga optimistis pendapatan paruh kedua akan meningkat dibandingkan dengan semester I/2019. Pasalnya, perubahan cuaca yang ekstrem akan meningkatkan penjualan dan tingginya harga bahan baku akan meningkatkan volume pendapatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, sido muncul

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top