MNCN Gandeng Perusahaan China Bikin Platform Video on Demand

MNCN memilih iQIYI karena perusahaan tersebut memiliki kemampuan mumpuni dari sisi teknologi yang merupakan bagian dari perusahaan pengembang mesin pencarian Baidu.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  17:12 WIB
MNCN Gandeng Perusahaan China Bikin Platform Video on Demand
Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo menyampaikan sambutan pada pembukaan perdagangan saham di Jakarta, Senin (8/10/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA--PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNCN) menggandeng perusahaan penyedia konten video asal China, iQIYI guna membuat platform penyedia layanan video on demand (VOD).

Dalam keterangan resminya, Rabu (21/8/2019), melalui perusahaan patungan itu, MNCN akan memiliki saham sebesar 51% dan 49% bakal dipegang iQIYI. Adapun, MNCN akan mengurus pemasaran, penjualan dan dukungan dari sisi regulasi.

Sementara itu, iQIYI bakal bertanggung jawab dari sisi teknologi dan pengembangan ke depan.

MNCN memilih iQIYI karena perusahaan tersebut memiliki kemampuan mumpuni dari sisi teknologi yang merupakan bagian dari perusahaan pengembang mesin pencarian Baidu.

Perusahaan patungan itu ditargetkan bisa berjalan pada kuartal IV/2019 dengan membuat konten dan memulai layanan freemium dari layanan video berbasis iklan (advertisement based video on demand/AVOD) dan layanan video berbasis langganan (subscription video on demand/SVOD).

Direktur Utama MNC Group Hary Tanoesoedibjo mengatakan belanja iklan digital bakal terus tumbuh dari 16% menjadi di atas 30% dalam kurun waktu lima tahun. Pertumbuhan tersebut, katanya, bakal terus terjadi dengan bobot double digit.

Di sisi lain, pendapatan masyarakat perkapita pun bakal terus tumbuh dari US$4.000 ke US$6.000 dalam waktu 5 tahun dan akan berada di kisaran US$10.000 dalam kurun waktu 10 tahun dengan pertumbuhan jumlah penduduk sebesar 3 juta hingga 4 juta per tahun.

Sejalan dengan itu, dia berujar, konsumsi masyarakat terhadap produk-produk digital SVOD akan terus naik. Guna menangkap peluang tersebut, Hary Tanoe menuturkan kombinasi iQIYI dan MNC akan menciptakan sinergi yang sangat kuat dalam layanan siaran video di Indonesia.

“Konsumsi akan tumbuh secara tajam termasuk belanja pada layanan SVOD. Kombinasi iQIYI dan MNCN akan menciptakan sinergi yang kuat dalam layanan video streaming di Indonesia,” katanya.

Mengacu pada Media Partners Asia (MPA), bisnis video daring di Asia diproyeksikan tumbuh berganda dari US$26 miliar pada 2019 menjadi US$52 miliar pada 2024. Indonesia sendiri menawarkan potensi besar untuk layanan AVOD dan SVOD.

Sebelumnya, MNCN melakukan penetrasi di media sosial, dengan jumlah subscribers 37,6 juta dan jumlah penonton 13,7 miliar. Bisnis MNCN terus naik melalui ekspansi ke aplikasi seluler di RCTI+.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mnc

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top