Pasokan Melimpah, Harga Jagung AS Rontok

Harga jagung berjangka untuk pengiriman Desember 2019 di Chicago Board of Trade (CBOT) melemah 9,75 poin atau 2,48% ke posisi US$383 sen per gantang.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  15:21 WIB
Pasokan Melimpah, Harga Jagung AS Rontok
Pekerja mengemas jagung impor yang akan didistribusikan ke peternak di Gudang Bulog, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (24/1/2019). - ANTARA/Zabur Karuru

Bisnis.com, JAKARTA – Harga jagung berjangka global amblas, setelah Departemen Pertanian Amerika Serikat (US Department of Agriculture) melaporkan bahwa para petani AS menanam lebih banyak komoditas itu, melebihi perkiraan para analis.

Mengutip Bloomberg, Selasa (13/8/2019), harga jagung berjangka untuk pengiriman Desember 2019 di Chicago Board of Trade (CBOT) turun 25 poin atau 6% menjadi US$392,75 sen per gantang pada Senin (12/8/2019), rekor penurunan tertajam sejak April 2013.

Sementara itu, pada hari ini, Selasa (13/8/2019) hingga pukul 15:11 WIB, harga jagung yang sama melemah 9,75 poin atau 2,48% ke posisi US$383 sen per gantang.

Harga kontrak berjangka jagung telah merosot 18,25% dari level harga tertinggi pada tahun berjalan 2019 sebesar US$468,5 sen per gantang yang tercapai pada 17 Juni 2019.

USDA mematok hektare yang ditanam di angka 90 juta, 2,6% lebih tinggi dari perkiraan analis rata-rata. Badan tersebut juga memperkirakan, hasil dan produksi pertanian AS akan lebih besar dari perkiraan.

Laporan USDA tersebut ditanggapi dengan beberapa skeptimisme dari para trader, yang telah memperkirakan badan tersebut lebih baik menunjukkan dalam laporan dampak dari banjir yang melanda Midwest AS, serta penundaan penaburan bibit.

Perkiraan USDA hasil jagung di 169,5 gantang per hektare, 2,8% lebih tinggi dari yang diperkirakan analis.

Broker berjangka INTL FCStone menyatakan, harga jagung jatuh karena USDA tidak memangkas perkiraan mereka.

AS menghadapi salah satu musim tanam terbasah yang pernah ada, menunda penanaman jagung, serta meninggalkan lahan yang biasanya seragam sama sekali tidak merata, setidaknya di negara bagian Illinois.

Kedelai tidak jauh lebih baik. Berbunga terlambat dan sekarang setelah cuaca berubah kering, tanaman berjuang untuk berkembang.

Jack Scoville, seorang broker di Price Group di Chicago mengatakan, pihaknya sulit memahami perkiraan hasil USDA. Menurutnya di pusat Illinois selama akhir pekan panen tidak terlalu baik, akibat gangguan cuaca.

Meski demikian, Ray Young, kepala keuangan Archer-Daniels-Midland Co, mengatakan, tanaman jagung terbukti tangguh berkat kemajuan teknologi benih dan pertanian.

“Teknologi genetika unggulan, sungguh menakjubkan hasilnya luar biasa,” katanya.

Rich Nelson, kepala ahli strategi di Allendale Inc., mengatakan, jagung berjangka turun turun menjadi US$3,30 pada saat kontrak Desember berakhir, berdasarkan pada kondisi pasar saat ini.

Sebelumnya, China dilaporkan enggan membeli hasil pertanian Amerika Serikat, sebagai respons terhadap ancaman sanksi terbaru oleh Negeri Paman Sam tersebut.

Seperti dikutip dari Reuters, Selasa (6/8/2019), Kementerian Perdagangan China menyatakan, perusahaan-perusahaan asal negara mereka telah berhenti membeli produk agrikultural AS. Selain itu, kementerian tersebut menyatakan, China juga kemungkinan mengenakan tarif tambahan untuk produk-produk pertanian AS.

Kementerian Perdagangan China berharap Amerika Serikat akan menepati janji dan menciptakan kondisi yang diperlukan untuk membangun kerja sama bilateral.

Keputusan tersebut pun menjadi pukulan telak bagi petani-petani AS yang sudah menderita akibat perang dagang ini. Lebih jauh lagi, bakal menyengsarakan mereka yang mendukung Trump pada pemilu 2016. Sementara itu, masa depan penyelesaian perang dagang kedua negara ekonomi terbesar dunia itu semakin suram.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, jagung

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top