Imbal Hasil Obligasi Pulih, Wall Street Urung Khawatir Soal Resesi AS

Indeks saham utama Amerika Serikat (AS), S&P 500, berhasil memulihkan penurunan tajamnya dan berakhir di zona hijau pada perdagangan Rabu (7/8/2019), setelah imbal hasil obligasi rebound dari posisi terendah yang sempat menimbulkan kekhawatiran soal resesi.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  06:59 WIB
Imbal Hasil Obligasi Pulih, Wall Street Urung Khawatir Soal Resesi AS
Aktivitas masyarakat terlihat di salah satu sudut pusat keuangan dunia, Wall Street di New York, Amerika Serikat - Bisnis/Stefanus Arief Setiaji

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks saham utama Amerika Serikat (AS), S&P 500, berhasil memulihkan penurunan tajamnya dan berakhir di zona hijau pada perdagangan Rabu (7/8/2019), setelah imbal hasil obligasi rebound dari posisi terendah yang sempat menimbulkan kekhawatiran soal resesi.

Berdasarkan data Reuters, indeks S&P 500 naik 0,08 persen atau 2,21 poin di level 2.883,98. Adapun indeks Nasdaq Composite ditutup menguat 0,38 persen atau 29,56 poin di level 7.862,83 dan indeks Dow Jones Industrial Average turun tipis 0,09 persen atau 22,45 poin ke posisi 26.007,07.

Selama sesi perdagangan tersebut, premi tingkat Treasury tiga bulan terhadap imbal hasil Treasury tenor 10 tahun, indikator resesi AS, berada di level paling tinggi sejak Maret 2007.

Meningkatnya kekhawatiran atas penurunan ekonomi global dan spekulasi bahwa Bank Sentral AS Federal Reserve harus meneruskan langkah pemangkasan suku bunga mendorong imbal hasil Treasury AS turun tajam di awal perdagangan.

Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun sempat menyentuh level terendahnya sejak Oktober 2016. Namun, penurunan imbal hasil kemudian mulai terkikis setelah pelelangan.

Menurut Michael Antonelli, pakar strategi pasar di Robert W. Baird, pemulihan tersebut mampu membantu mendongkrak pergerakan saham.

“Imbal hasil 10 tahun telah mewakili kekhawatiran tentang pertumbuhan global saat ini, sehingga pasar saham mengawasi pergerakannya. Jadi ketika imbal hasil mulai naik hari ini [Rabu], pasar saham mulai bangkit,” terang Antonelli.

“[Namun] saya tidak melihat pasar akan kembali ke titik tertingginya. Kita bisa terjebak dalam kisaran saat ini,” tambahnya.

Di antara sektor-sektor S&P, finansial membukukan penurunan terbesar dengan turun 1,2 persen. Sektor energi turun 0,8 persen mengikuti pelemahan harga minyak, tetapi indeks bahan pokok dan bahan baku masing-masing mampu berakhir naik lebih dari 1 persen.

Selain pulihnya imbal hasil, kenaikan bursa saham juga ditopang minat investor pada sejumlah penawaran saham pascaaksi jual baru-baru ini. Indeks S&P 500 telah turun 4,7 persen sejak mencatat level penutupan tertinggi pada 26 Juli.

Sementara itu, para pedagang meningkatkan spekulasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak tiga kali lebih lanjut sebelum akhir tahun.

Bank-bank sentral di Selandia Baru, India, dan Thailand pada Rabu (7/8/2019) memangkas suku bunga pinjaman mereka di tengah kekhawatiran bahwa perang perdagangan AS-China dapat memperburuk pelambatan ekonomi global.

Pergerakan Bursa Wall Street 7 Agustus

Indeks

Level

Perubahan (persen)

Dow Jones

26.007,07

-0,09

S&P 500

2.883,98

+0,08

Nasdaq

7.862,83

+0,38

Sumber: Reuters

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wall street, Kebijakan The Fed, perang dagang AS vs China

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top