Investor Khawatir Risiko Resesi AS, Bursa Eropa Rebound Tipis

Meski rebound, penguatan bursa Eropa tergerus sebagian setelah bursa Wall Street AS dibuka turun tajam di tengah kekhawatiran soal resesi.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  06:50 WIB
Investor Khawatir Risiko Resesi AS, Bursa Eropa Rebound Tipis
Bursa Eropa - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Euforia seputar kesepakatan perusahaan kimia Jerman bernilai miliaran dolar Amerika Serikat (AS) mampu mendorong bursa Eropa mematahkan rangkaian pelemahan tiga hari beruntunnya pada akhir perdagangan Rabu (7/8/2019).

Meski rebound, penguatan bursa Eropa tergerus sebagian setelah bursa Wall Street AS dibuka turun tajam di tengah kekhawatiran soal resesi.

Berdasarkan data Reuters, indeks Stoxx 600 ditutup naik 0,2 persen, setelah sempat menguat 1 persen yang didorong kesepakatan Bayer dan Lanxess untuk menjual operator taman kimia Currenta sebesar US$3,9 miliar.

Saham Bayer pun melonjak 6 persen, menjadikannya pendorong terbesar untuk Stoxx sekaligus membantu indeks DAX Jerman mengabaikan data output industri mingguannya.

Namun, seluruh indeks saham utama negara-negara di Eropa kemudian memangkas sebagian kenaikannya. Bursa saham di Italia dan Swiss bahkan berbalik negatif setelah bursa saham AS anjlok karena kekhawatiran investor oleh sinyal terbaru dari pasar obligasi yang menunjuk pada peningkatan risiko resesi.

Investor telah meraup surat utang pemerintah AS sejak pekan lalu di tengah pertaruhan bahwa bank sentral AS Federal Reserve akan perlu memangkas suku bunga lebih dari yang diisyaratkan sejauh ini, sebagai upaya untuk memerangi risiko dari meningkatnya perang perdagangan antara AS dan China.

“Dengan awal perdagangan di AS yang buruk dan pemberitaan dalam beberapa hari terakhir tentang perang perdagangan AS-China, pasar Eropa mencari petunjuk dari AS,” terang analis Spreadex Connor Campbell.

Di Eropa, imbal hasil obligasi Jerman bertenor panjang jatuh ke rekor terendah barunya setelah pemangkasan suku bunga secara tajam dari Selandia Baru dan lesunya data Jerman memberikan dorongan lebih lanjut untuk rally tanpa henti di pasar obligasi.

“Kita berpotensi menghadapi mata badai saat ini dan investor khawatir bahwa pemberitaan utama lainnya akan muncul setiap saat,” tambah Campbell.

Aksi jual pada saham sejak pekan lalu ketika Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif lebih lanjut terhadap barang-barang China mengingatkan aksi jual besar-besaran pada bulan Mei.

Saat itu, perundingan perdagangan AS-China yang berakhir buntu membawa pasar Eropa mencatat bulan terburuknya dalam lebih dari tiga tahun dengan melemah 5,7 persen. Sejak Jumat lalu (2/8/2019), indeks saham utama Eropa sendiri telah turun sekitar 5 persen.

Sementara itu, berlanjutnya penurunan harga bijih besi dan minyak membebani saham bahan baku dan energi. Saham Glencore Plc. melorot 0,9 persen akibat penurunan dalam laba inti sebesar 32 persen pada semester pertama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, bursa eropa, wall street

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top