Waskita Karya Berencana Terbitkan Surat Utang Rp6,50 Triliun

Surat utang yang akan diterbitkan yaitu Penawaran Umum Berkelanjutan IV senilai Rp3 triliun dan surat utang global setara Rp3,50 triliun.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  07:15 WIB
Waskita Karya Berencana Terbitkan Surat Utang Rp6,50 Triliun
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan terminal baru di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padangpariaman, Sumatra Barat, Kamis (24/1/2019). Data Angkasa Pura II, proyek yang dikerjakan PT Waskita karya itu mulai dibangun dengan nilai kontrak sebesar Rp363,9 miliar - ANTARA/Iggoy el Fitra

Bisnis.com, JAKARTA — PT Waskita Karya (Persero) Tbk. berencana menerbitkan dua surat utang senilai Rp6,50 triliun selama paruh kedua 2019 guna melunasi utang lama dan modal pengembangan proyek baru.

Direktur Keuangan PT Waskita Karya Tbk. (WSKT) Haris Gunawan mengatakan bahwa surat utang yang akan diterbitkan yaitu Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) IV senilai Rp3 triliun dan surat utang global setara Rp3,50 triliun.

Obligasi dalam negeri akan diterbitkan lebih dahulu pada September 2019. Walhasil, rencana penerbitan surat utang paling banyak direncanakan Rp6,50 triliun.

"Ini PUB baru, PUB yang keempat. Total kami terbitkan Rp4,95 triliun, tapi tahun ini kami terbitkan Rp3 triliun dulu. Underwriter-nya keroyokan," ujar Haris, Senin (5/8/2019).

Menurut Haris, perusahaan sekuritas yang akan menjadi penjamin pelaksana emisi (underwriter) antara lain PT Bahana Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, PT Indo Premier Sekuritas, PT DBS Vickers Securities, dan PT BNI Securities.

Sebelumnya, Waskita Karya telah menuntaskan menerbitkan tiga obligasi berkelanjutan.

Per Juni 2019, jumlah utang obligasi bersih yang masih menjadi kewajiban perseroan mencapai Rp12,94 triliun. Kisaran tingkat bunga dari obligasi yang belum dilunasi berkisar 7,75 persen sampai dengan 11,10 persen.

Selain penerbitan obligasi di dalam negeri, Waskita Karya juga sedang menelaah untuk menerbitkan obligasi global dengan menggandeng bank asing sebagai arranger

Haris menjelaskan bahwa arranger akan mengatur sedemikian rupa agar perseroan mendapatkan dana segar dalam denominasi rupiah.

Adapun, risiko nilai tukar akan ditanggung lewat lindung nilai atau hedging yang mana menjadi porsi arranger.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surat utang, global bond, waskita karya

Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top