Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Laba Panca Budi Idaman (PBID) Turun 22 Persen, Apa Penyebabnya?

Laba bersih PT Panca Budi Idaman Tbk. yang tertekan sepanjang separuh pertama tahun ini disebabkan oleh harga minyak dunia turun sehingga menggerus margin laba segmen bijih plastik.
Direktur Utama PT Panca Budi Idaman Tbk. Djonny Taslim (tengah) berbincang dengan Direktur Vicky Taslim (kanan) dan Direktur Tan Hendra usai paparan kinerja di Jakarta, Senin (27/5/2019)./Bisnis-Abdullah Azzam
Direktur Utama PT Panca Budi Idaman Tbk. Djonny Taslim (tengah) berbincang dengan Direktur Vicky Taslim (kanan) dan Direktur Tan Hendra usai paparan kinerja di Jakarta, Senin (27/5/2019)./Bisnis-Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Pada semester I/2019, laba PT Panca Budi Idaman Tbk. tertekan 22,40 persen secara tahunan menjadi Rp107,01 miliar. Di sisi lain, penjualan bersihnya tercatat naik 13,74 persen dari Rp1,98 triliun pada semester I/2018 menjadi Rp2,26 triliun sepanjang Januari-Juni 2019.

Direktur & Corporate Secretary Panca Budi Idaman Lukman Hakim menjelaskan, laba bersih yang tertekan sepanjang separuh pertama tahun ini karena harga minyak dunia turun, dari sekitar US$60-US$80 per barel pada semester I/2018 menjadi US$50-US$60 pada semester I/2019 per barel. Kondisi ini memengaruhi margin laba segmen biji plastik yang turun pada periode tersebut.

Penjualan segmen biji plastik senilai Rp845,91 miliar atau naik 15,49% secara tahunan. Meski demikian, laba kotor segmen ini tertekan 70,82 persen menjadi Rp15,68 miliar. Margin laba kotor menyempit, dari 7,34 persen pada semester I/2018 menjadi 1,85 persen pada semester I/2019.

Di samping itu, pembagian Tunjangan Hari Raya (THR) pada Juni 2019 turut memengaruhi laba bersih semester I/2019. Perseroan juga memberikan diskon harga jual sebagai salah satu strategi ekspansi pasar.

Sebagai informasi, segmen kantong plastik berkontribusi 56,72 persen terhadap total penjualan. Penjualan di segmen ini naik 9,08% secara tahunan pada semester I/2019.

"Kami sedang ekspansi pasar. Jadi kami memberikan diskon sehingga keuntungannya menurun," ujarnya pada Senin (5/8/2019).

Lukman optimistis laba emiten berkode saham PBID ini akan membaik karena tidak ada lagi pembagian THR pada semester II/2019. Perseroan juga berharap harga bahan baku plastik dapat naik di periode mendatang.

PBID optimistis dapat mencapai target pertumbuhan penjualan dan laba bersih mencapai 15 persen pada tahun ini. Optimisme ini didorong oleh subtitusi kantong plastik yang masih sedikit dan mahal.

Di sisi lain, kebutuhan terhadap kantong plastik food grade masih tinggi di sektor makanan dan minuman, pasar tradisional, UMKM, dan e-commerce. Lukman menyebut, Frost & Sullivan memperkirakan industri plastik kantongan di Indonesia akan tumbuh 7,2 persen dari 2015 sampai dengan 2020.

"Pelanggan kami sebagian besar dari pasar tradisional. Saat ini pemerintah telah meluncurkan program revitalisasi 1.000 pasar tradisional setiap tahun sampai 2019," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Azizah Nur Alfi
Editor : Ana Noviani
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper