Kinerja ADHI Bakal Ditopang Proyek Pemerintah & TOD

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, Selasa (30/7/2019), emiten berkode saham ADHI itu membukukan pendapatan Rp5,42 triliun pada semester I/2019. Realisasi itu lebih rendah 10,79 persen dari Rp6,08 triliun periode yang sama tahun lalu.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 31 Juli 2019  |  07:56 WIB
Kinerja ADHI Bakal Ditopang Proyek Pemerintah & TOD
Pengunjung mencoba virtual reality disamping maket hunian terintegrasi transportasi Stasiun Rawa Buntu yang dibangun dengan konsep Transit oriented Development (TOD) di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (10/12/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA— PT Adhi Karya (Persero) Tbk. optimistis kinerja perseroan akan lebih baik pada semester II/2019 ditopang oleh maraknya tender proyek-proyek pemerintah serta kontribusi dari bisnis transit oriented development.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, Selasa (30/7/2019), emiten berkode saham ADHI itu membukukan pendapatan Rp5,42 triliun pada semester I/2019. Realisasi itu lebih rendah 10,79 persen dari Rp6,08 triliun periode yang sama tahun lalu.

Beban pokok pendapatan perseroan senilai Rp4,57 triliun per akhir Juni 2019. Posisi itu turun 11,37 persen dari Rp5,15 triliun pada semester I/2018.

Dari situ, ADHI membukukan laba bruto Rp853,51 miliar pada semester I/2019. Nilai tersebut turun 7,57 persen dari Rp923,42 miliar akhir Juni 2018.

Pada Januari 2019—Juni 2019, kontraktor pelat merah itu membukukan pendapatan lainnya bersih Rp32,70 miliar. Selain itu, bagian laba ventura bersama tercatat naik dari Rp39,86 miliar pada semester I/2018 menjadi Rp126,98 miliar per akhir Juni 2019.

Dengan demikian, ADHI mengantongi laba bersih Rp215 miliar pada semester I/2019. Pencapaian itu tumbuh 1,08 persen dari Rp212,70 miliar periode semester I/2018.

Ki Syahgolang Permata, Corporate Secretary Adhi Karya mengungkapkan realisasi semester I/2019 dipengaruhi masih belum banyaknya tender-tender proyek pemerintah. Perolehan kontrak dari segmen itu menurutnya masih di bawah 20 persen.

“Diharapkan pada semester II/2019 ada peningkatan sehingga berpengaruh positif kepada pertumbuhan kontrak dan kinerja ADHI,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (30/7).

Selain tender proyek pemerintah, dia menyebut perseroan juga memiliki beberapa proyek properti transit oriented development (TOD). Saat ini, pihaknya mengklaim kontribusi dari lini tersebut sudah mulai meningkat.

Sebagai gambaran, ADHI mengembangkan TOD lewat anak usaha PT Adhi Commuter Properti (ACP). Terdapat total sembilan kawasan yang sedang dikembangkan oleh kontraktor pelat merah tersebut.

Adapun, beberapa proyek TOD itu di antaranya Urban Signature Ciracas, Gateway Park Jati Cempaka, Green Avenue Bekasi Timur, dan Royal Sentul Park.

Ke depan, Ki Syahgolang mengungkapkan ADHI akan mengupayakan perolehan kontrak baru melalui proyek pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan swasta. Selain itu, kinerja semester II/2019 juga akan ditopang oleh lini bisnis properti khususnya TOD.

“Kontribusi marketing sales properti hingga Juni 2019 mencapai hampir Rp1 triliun,” imbuhnya.

Pada Januari 2019—Juni 2019, ADHI melaporkan total nilai kontrak baru yang dikantongi Rp5,4 triliun. Secara detail, kontribusi lini bisnis konstruksi dan energi sebesar 81,6 persen, properti 18,1 persen, dan sisanya merupakan lini bisnis lainnya.

Berdasarkan tipe pekerjaan, kontribusi terbesar berasal dari gedung 71,5 persen, jalan dan jembatan 4,4 persen, serta infrastruktur lainnya 24,1 persen. Dari sisi segmentasi sumber dana, kontrak baru dari pemerintah 18,8 persen, BUMN 72,9 persen, dan swasta atau lainnya 8,3 persen.

Dengan realisasi per Juni 2019, ADHI baru merealisasikan 18 persen target kontrak baru tahun ini. Pasalnya, jumlah yang dibidik perseroan senilai Rp30 triliun.

REKOMENDASI

Secara terpisah, Frankie Wijoyo Prasetio, Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan menilai rendahnya pertumbuhan laba bersih ADHI karena penurunan pendapatan. Kondisi itu menurutnya akibat kontrak baru yang lebih sedikit pada 2019 serta lambatnya proses pengerjaan proyek light rail transit (LRT).

Kendati demikian, Frankie memproyeksikan ADHI memiliki peluang untuk menambah pundi kontrak baru. Dengan demikian, pencapaian itu akan menunjang pertumbuhan laba perseroan.

“Kami merekomendasikan beli bertahap dengan target harga di level Rp1.620,” jelasnya.

Senior Vice President Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial mengatakan seharusnya ADHI agresif mengejar proyek infrastruktur pemerintah. Menurutnya, secara skala dan ukuran anggaran infrastruktur era Presiden Joko Widodo hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan periode pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham ADHI menguat 60 poin atau 4,14 persen ke level Rp1.510 pada penutupan perdagangan, Selasa (30/7). Total kapitalisasi pasar yang dimiliki perseroan senilai Rp5,38 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
adhi karya

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top