Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Suplai Melimpah, Harga Karet pun Lesu

Harga karet di Tokyo dan Shanghai kompak tergelincir dan berakhir melemah pada perdagangan hari ini, Senin (22/7/2019), saat penurunan indeks saham di kawasan Asia dan prospek pasokan yang lebih cerah untuk komoditas ini membebani pasar.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 22 Juli 2019  |  15:49 WIB
Pekerja memuat getah karet di tempat penampungan karet sementara Singkut, Sarolangun, Jambi, Kamis (19/10). - ANTARA/Wahdi Septiawan
Pekerja memuat getah karet di tempat penampungan karet sementara Singkut, Sarolangun, Jambi, Kamis (19/10). - ANTARA/Wahdi Septiawan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet di Tokyo dan Shanghai kompak tergelincir dan berakhir melemah pada perdagangan hari ini, Senin (22/7/2019), saat penurunan indeks saham di kawasan Asia dan prospek pasokan yang lebih cerah untuk komoditas ini membebani pasar.

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif Desember 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) ditutup melemah 0,32 persen atau 0,60 poin di level 184,50 yen per kg dari level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Jumat (19/7/2019), harga karet kontrak Desember 2019 masih mampu membukukan kenaikan 0,49 persen atau 0,90 poin dan berakhir di posisi 185,10 (lihat tabel).

Adapun harga karet kontrak September 2019 di Shanghai Futures Exchange berakhir melemah 0,42 persen atau 45 poin di level 10,640 yuan per ton hari ini (Senin, 22/7).

Harga karet di Shanghai tergelincir turun setelah pada perdagangan Jumat (19/7) mampu ditutup menguat 0,99 persen atau 105 poin di posisi 10.685.

“Karet tertekan oleh penurunan dalam bursa saham Jepang di tengah memudarnya optimisme tentang penurunan suku bunga AS yang agresif,” ujar Naohiro Niimura, mitra di Market Risk Advisory, Tokyo.

Bursa saham Jepang melemah pada perdagangan hari ini, mengikuti penurunan bursa saham di Amerika Serikat akhir pekan lalu, karena pedagang mengurangi spekulasi pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin oleh Federal Reserve dalam pertemuan kebijakannya akhir bulan ini.

Sementara itu, ITG Futures dalam risetnya pekan lalu menerangkan bahwa prospek harga karet masih lesu karena meningkatnya pasokan karet mentah baik di pasar domestik maupun luar negeri.

“Harga [karet] diperkirakan akan tetap lemah karena jumlah persediaan yang tinggi pada produsen-produsen ban dan penjualan yang lambat di industri otomotif,” paparnya, dikutip dari Bloomberg

Berbanding terbalik dengan karet, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus 2019 terpantau lanjut naik tajam 1,8 persen atau 1 poin ke level US$56,63 per barel pada pukul 14.57 WIB, setelah berakhir menguat 0,6 persen di posisi 55,63 pada Jumat (19/7).

Adapun harga minyak acuan global Brent untuk kontrak September 2019 melonjak 2,16 persen atau 1,35 poin ke level US$63,82 per barel siang ini.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Desember 2019 di Tocom

Tanggal         Harga (Yen/kg)           Perubahan (persen)
22/7/2019184,50-0,32
19/7/2019185,10+0,49
18/7/2019184,20+2,05

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga karet
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top