Anggota OPEC Dukung Perpanjangan Pemangkasan Produksi, Harga Minyak Masih Melemah

Kesepakatan pemangkasan produksi oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) dan sekutunya sepertinya bakal berlanjut. Salah satu anggota OPEC, Uni Emirat Arab mendukung langkah tersebut.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 12 Juni 2019  |  14:16 WIB
Anggota OPEC Dukung Perpanjangan Pemangkasan Produksi, Harga Minyak Masih Melemah
Sebuah pemandangan menunjukkan fasilitas minyak Abqaiq Saudi Aramco di Arab Saudi timur - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA – Kesepakatan pemangkasan produksi oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) dan sekutunya sepertinya bakal berlanjut. Salah satu anggota OPEC, Uni Emirat Arab mendukung langkah tersebut.

Untuk diketahui, OPEC dan sekutunya termasuk Rusia tahun lalu sepakat mencukur produksi minyak mereka mulai 1 Januari untuk menghindari kelebihan pasokan. Perjanjian itu mengurangi pasokan sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) selama 6 bulan, mengacu produksi Oktober sebagai dasarnya.

Berbicara di Forum Ekonomi Internasional Amerika, Menteri Energi UEA Suhail bin Mohammed al-Mazroui mengatakan, berkaca pada persediaan minyak yang ada, pembatasan produksi harus tetap dilakukan atau diperpanjang.

“Setidaknya sampai akhir tahun. Hal ini merupakan keputusan yang tepat [jika dijalankan],” katanya dikutip dari Reuters, Rabu (12/6/2019).

Dia menambahkan, permintaan minyak akan tetap solid pada 2020. OPEC dijadwalkan bertemu pada 25 Juni, diikuti dengan pembicaraan dengan sekutu-sekutunya yang dipimpin oleh Rusia pada 26 Juni. Namun, sejumlah sumber Reuters mengatakan, Rusia menyarankan memindahkan pertemuan itu ke 3-4 Juli dan Riyadh mendukung permintaan itu.

Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh, dalam sepucuk surat yang dilihat oleh Reuters, mengatakan pihaknya tidak setuju dengan proposal OPEC untuk menjadwal ulang pertemuan tersebut.

Al-Marzoui tidak mempersoalkan hal tersebut. Menurutnya yang terpenting dalam pertemuan nanti dibahas situasi termutakhir terkait pasar minyak, sehingga menjadi dasar  dalam membuat keputusan. Namun, pernyataan Marzoui itu rupanya belum mampu mendorong harga minyak untuk menguat pada hari ini.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 13.30 WIB, harga minyak West Texas Intermediate melemah 1,95% atau 1,04 poin ke level US$52,23 per barel, sementara harga minyak Brent melemah 1,83% atau 1,14 poin ke level US$61,15 per barel.

Hal tersebut terpicu oleh proyeksi lemahnya permintaan minyak dunia, serta potensi kenaikan persediaan minyak mentah Amerika Serikat.

Dilansir dari Reuters, Rabu (12/6/2019), Administrasi Informasi Energi AS (Energy Information Administration/EIA) memangkas perkiraannya terkait permintaan minyak dunia 2019 dan merilis laporan produksi minyak bulanan AS, pada Selasa (11/6) waktu setempat.

EIA mengurangi perkiraannya terhadap permintaan minyak pada tahun ini sebesar 160.000 barel per hari menjadi 1,22 juta barel per hari. Lembaga itu juga menurunkan perkiraan produksi minyak mentah AS 2019 menjadi 12,32 juta barel per hari, 140.000 bph lebih rendah dari perkiraan Mei.  

Sementara itu, kejutan datang dari perkiraan stok minyak AS yang membuat harga minyak dunia tertekan. “Investor khawatir tentang kenaikan stok minyak AS baru-baru ini,” kata bank ANZ dalam sebuah catatan.

American Petroleum Institute (API), Selasa (11/6) melaporkan, persediaan minyak mentah AS naik 4,9 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Juni lalu, menjadi 482,8 juta barel. Jumlah tersebut jauh berbeda dengan perkiraan para analis di angka 481.000 barel.

Namun, data resmi terkait hal itu akan diumumkan oleh EIA pada Rabu (12/6) pukul 14.30 GMT (21.15 WIB).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, opec, harga minyak dunia

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top