Perbesar Produksi Hand Towel, Suparma (SPMA) Investasi Mesin US$21 Juta

Direktur Suparma, Hendro Luhur mengatakan meningkatnya permintaan produk kertas tisu dan LWK tersebut membuat perseroan perlu melakukan investasi lagi agar dapat memenuhi kebutuhan pasar khususnya sektor hotel, kafe dan restoran (Horeka).
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 30 Mei 2019  |  06:45 WIB
Perbesar Produksi Hand Towel, Suparma (SPMA) Investasi Mesin US$21 Juta
Direktur PT Suparma Tbk Hendro Luhur (kanan) bersama dengan jajaran direksi Suparma saat menggelar RUPS dan Buka Bersama di Surabaya, Rabu (29/5/2019). - Bisnis/ Peni Widarti

Bisnis.com, SURABAYA – PT Suparma Tbk. (SPMA) menambah mesin baru dengan menginvestasikan US$21 juta guna memperbesar kapasitas produksi kertas tisu jenis hand towel dan laminating wrap kraft (LWK).

Direktur Suparma, Hendro Luhur mengatakan meningkatnya permintaan produk kertas tisu dan LWK tersebut membuat perseroan perlu melakukan investasi lagi agar dapat memenuhi kebutuhan pasar khususnya sektor hotel, kafe dan restoran (Horeka).

“Kalau melihat kondisi ekonomi yang tumbuh hanya sekitar 5 persen tapi justru sektor makanan minuman dan horeka ini malah tumbuh lebih tinggi, jadi ini yang kita tangkap,” katanya saat RUPS, Rabu (29/5/2019).

Dia mengatakan belanja modal perseroan tahun ini adalah sekitar US$23 juta, dan 90 persen nya hanya untuk investasi mesin tersebut. Investasi perseroan ini direncanakan menggunakan dana internal hasil dari usaha menyisihkan laba selama ini.

Adapun Suparma sendiri memiliki 9 mesin produksi. Untuk mesin nomor 8 dan 9 merupakan mesin penghasil kertas tisu. Tingkat utilisasi mesin-mesin Suparma pun sudah mencapai 90 persen sehingga perlu perningkatan kapasitas.

Hendro mengatakan rencananya mesin yang akan diinvestasikan tahun ini adalah mesin nomor 10 yang memproduksi hand towel.

Diharapkan mesin baru ini bisa produksi komersial pada Juni 2020 dengan kapasitas terpasang 54.000 MT sehingga total kapasitas terpasang kita akan naik 21,5 persen dari 250.000 MT menjadi 304.900 MT.

“Rencananya, hasil produksi mesin baru ini akan menyasar pasar luar negeri sebanyak 40 persen dan sebanyak 60 persen membidik pasar dalam negeri,” imbuhnya.

Adapun pada 2018, Suparma telah mencatatkan kinerja penjualan yang meningkat 14,1 persen dari Rp2 triliun pada 2017 menjadi Rp2,3 triliun pada 2018, dengan perolehan laba kotor Rp372 miliar atau naik 18,3 persen dibandingkan laba 2017.

Kenaikan penjualan tersebut disebabkan oleh naiknya harga jual rata-rata sebesar 9,8 persen. Sedangkan secara kuantitas, penjualan perseroan pada 2018 mencapai 223.000 MT naik 3,7 persen dibandingkan 2017.

Hendro menambahkan hingga April 2019, Suparma mencatatkan penjualan naik 13 persen (yoy), yakni telah terealisasi 33,1 persen dari total target penjualan 2019 sebesar Rp2,5 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
suparma, aksi emiten

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top