Kebutuhan Dana Tinggi, BUMN Marak Rilis Obligasi

Di tengah tingginya kebutuhan pendanaan, sederet instrumen obligasi perseroan pelat merah siap meluncur ke pasar pada kuartal II/2019 setelah emisi sempat lesu sepanjang Januari 2019—Maret 2019.
M. Nurhadi Pratomo | 13 Mei 2019 08:03 WIB
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah tingginya kebutuhan pendanaan, sederet instrumen obligasi perseroan pelat merah siap meluncur ke pasar pada kuartal II/2019 setelah emisi sempat lesu sepanjang Januari 2019—Maret 2019.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) sebelumnya menyampaikan, penerbitan surat utang oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru senilai Rp12,5 triliun pada kuartal I/2019. Jumlah itu menurun cukup tajam dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu mencapai Rp59,8 triliun.

Agus Purbianto, Direktur Keuangan dan Pengelolaan Kapital Manusia PT PP (Persero) Tbk. mengungkapkan rencana meneruskan penerbitan obligasi pada kuartal II/2019. Kontraktor pelat merah itu akan melakukan emisi sebanyak-banyaknya Rp1,5 triliun.

“[Dana dari obligasi] sebagian untuk refinancing, yang jangka pendek jadi jangka panjang,” ujarnya kepada Bisnis.com, akhir pekan lalu.

Sebagai catatan, emiten bersandi PTPP itu telah mengantongi dana segar Rp1,5 triliun dari penerbitan obligasi pada Juli 2018. Jumlah tersebut berasal dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) Obligasi Tahap I 2018.

Obligasi tersebut telah mendapatkan peringkat A+ dari PT Pemeringkat Efek Indonesia. Adapun, tiga perusahaan yang menjadi Penjamin Pelaksana Emisi yakni PT BNI Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas. 

Sementara itu, Direktur Keuangan PT Waskita Beton Precast Tbk. Anton Y Nugroho mengatakan perseroan akan mengemisi penawaran umum berkelanjutan (PUB) I obligasi dengan jumlah pokok Rp500 miliar. Eksekusi penggalangan dana tersebut akan dilakukan pada Juni 2019.

“Sisanya PUB II, total PUB Rp2 triliun,” ujarnya.

Anton mengatakan dana yang dihimpun akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan belanja modal perseroan dengan total Rp900 miliar pada 2019. Sisanya, emiten berkode saham WSBP itu akan menggunakan kas internal.

Di sisi lain, induk usaha WSBP, PT Waskita Karya (Persero) Tbk. juga akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap IV Tahun 2019 dengan jumlah pokok Rp1,84 triliun. Surat utang itu terdiri atas Seri A Rp484 miliar berkupon 9,0% dan Seri B Rp1,36 triliun berkupon 9,75%.

Director of Finance and Strategy Waskita Karya Haris Gunawan mengatakan penawaran obligasi sudah selesai. Menurutnya, surat utang tersebut sudah sepenuhnya terserap oleh investor Rp1,84 triliun.

“Pembayaran [dana masuk] bulan Mei 2019 yang jelas,” tuturnya. 

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Waskita Karya juga memiliki satu obligasi jatuh tempo dengan jumlah pokok Rp2 triliun pada 2019. Jumlah itu berasal dari penerbitan Obligasi Berkelanjutan II Waskita Karya Tahap I Tahun 2016.

Surat utang tersebut dicatatkan pada 13 Juni 2016 dan akan jatuh tempo pada 10 Juni 2019. Obligasi itu dibanderol dengan kupon tetap 9,25%.

KSEI juga mencatat PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. juga akan menerbitkan dan menawarkan Obligasi Berkelanjutan I Semen Indonesia Tahap II Tahun 2019 dengan jumlah pokok sebanyak-banyaknya Rp4,9 triliun. Penawaran umum rencananya akan dilakukan pada 21 Mei 2019—23 Mei 2019 dan dilakukan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 29 Mei 2019.

Surat utang tersebut terdiri atas Seri A dengan jumlah pokok Rp2,83 triliun berkupon 9,00%. Selanjutnya, Seri B memiliki jumlah pokok Rp654 miliar dengan tingkat kupon 9,10%.

Adapun, sisa dari jumlah pokok yang ditawarkan sebanyak-banyak Rp1,415 triliun akan dijamin secara kesanggupan terbaik atau best effort

Akhir pekan lalu, Manajemen emiten berkode saham SMGR itu mengatakan dana yang dihimpun dari obligasi akan digunakan untuk melunasi sebagian kredit sindikasi perseroan.

Pinjaman tersebut ditarik perseroan saat mencaplok kepemilikan saham LafargeHolcim di PT Holcim Indonesia Tbk. yang kini telah berganti nama menjadi PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. 

Produsen semen milik negara itu mengambil 6.179.612.820 lembar saham atau 80,6% kepemilikan LafargeHolcim. Nilai pembelian yang disepakati senilai US$917 juta.

Selanjutnya, PT Adhi Karya (Persero) Tbk. juga berencana menerbitkan sisa PUB obligasi dimiliki senilai Rp2 triliun pada pertengahan 2019. Manajemen emiten berkode saham ADHI itu menyebut saat ini proses bookbuilding atau penawaran awal masih terus berlangsung.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, PT Kimia Farma (Persero) Tbk. juga berencana menerbitkan obligasi dengan sekitar Rp1,5 triliun bertenor 3 tahun—5 tahun. Emiten berkode saham KAEF itu telah menunjuk Mandiri Sekuritas dan BNI Sekuritas sebagai penjamin emisi.

Aksi penggalangan dana itu menurut manajemen tinggal menunggu restu pemegang saham. Apabila persetujuan dikantongi pada akhir Mei 2019, maka emisi dapat dilakukan sekitar Juni 2019.

KAEF meyakini langkah itu dapat menjadi strategi untuk menekan beban keuangan perseroan yang naik signifikan pada kuartal I/2019. Dengan demikian, laba perseroan dapat tumbuh positif pada periode berikutnya.

KEBUTUHAN DANA

Secara terpisah, Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia menilai langkah yang ditempuh sejumlah emiten BUMN sejalan dengan proyek yang telah berjalan. Kebutuhan dana membuat perseroan harus menempuh strategi emisi obligasi.

“Untuk pembiayaan, BUMN menyesuaikan dengan proyek-proyek mereka," jelasnya.

Ramdhan menyebut kondisi saat ini cost of fund masih terbilang tinggi. Apalagi, hampir sebulan terakhir yield surat berharga negara (SBN) cukup tertekan.

“Kalau tekanan terus berlangsung potensi kenaikan yield pasar masih terbuka. Faktornya baik dari eksternal maupun internal,” imbuhnya.

Kendati demikian, dia menilai likuiditas di pasar masih sangat baik. Pihaknya menyebut pasar masih membutuhkan instrumen-instrumen baru sejalan dengan masih minimnya penerbitan surat utang korporasi pada kuartal I/2019.

Ramdhan menambahkan masuknya sederet obligasi baru dari perseroan pelat merah akan menambah pilihan bagi para pelaku pasar atas instrumen yang beredar di pasar sekunder.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, bumn, obligasi korporasi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup