Aksi Beli Turun Drastis, Investasi Reksa Dana Kalah Saing dengan SBR?

Turunnya pembelian bersih atau net subscription reksa dana pada April 2019 dinilai karena ‘kalah saing’ dengan penerbitan surat berharga ritel yang diterbitkan oleh pemerintah.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 08 Mei 2019  |  15:11 WIB
Aksi Beli Turun Drastis, Investasi Reksa Dana Kalah Saing dengan SBR?
Ilustrasi investasi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Turunnya pembelian bersih atau net subscription reksa dana pada April 2019 dinilai karena ‘kalah saing’ dengan penerbitan surat berharga ritel yang diterbitkan oleh pemerintah.

Alvin Pattisahusiwa, Direktur Utama PT Mandiri Manajemen Investasi, menilai kemungkinan dari penurunan net subscription reksa dana disebabkan oleh penerbitan instrumen surat berharga negara seri saving bond retail (SBR) oleh pemerintah. Hal itu diperkirakan membuat investor lebih memburu SBR dan melepaskan reksa dananya.

“Bisa saja karena ada penerbitan SBR yang menjadi substitute untuk produk reksa dana,” kata Alvin kepada Bisnis.com, Rabu (8/5/2019).

Adapun pada April, pemerintah melalui Kementerian Keuangan kembali menerbitkan instrumen surat berharga negara ritel seri saving bond retail SBR-006 dengan tingkat kupon yang diberikan sebesar 7,95%. 

Selain itu, Alvin menambahkan, turunnya net subscription reksa dana diperkirakan karena tertekan dari beberapa reksa dana terproteksi yang jatuh tempo dan belum diterbitkan kembali yang baru.

Adapun aksi beli investor di pasar reksa dana anjlok ke level terendahnya sepanjang tahun pada April 2019. Tak tanggung-tanggung, penurunan pembelian reksa dana mencapai 77,22%.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 30 April 2019, pembelian bersih atau net subscription reksa dana turutn 77,22% menjadi Rp2,09 triliun dari posisi Rp9,20 triliun pada bulan sebelumnya.

Adapun, aksi pencairan alias redemption reksa dana sepanjang bulan lalu terpantau mengalami kenaikan sebesar 12,72% menjadi Rp62,48 triliun dari posisi Rp55,43 triliun pada Maret 2019. 

Pada saat bersamaan, pembelian atau subscription tak banyak berubah dengan penurunan tipis 0,07% menjadi Rp64,58 triliun dari sebelumnya Rp64,63 triliun.

Sementara itu, dana kelolaan atau Nilai Aktiva Bersih (NAB) industri reksa dana juga kian merosot pada akhir April 2019.

OJK mencatat, asset under management (AUM) reksa dana per 30 April 2019 senilai Rp511,59 triliun, atau turun 0,77% dari perolehan pada Maret sebesar Rp515,61 triliun. Penurunan dana kelolaan reksa dana ini merupakan yang kedua kalinya berturur-turut sejak awal tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
reksa dana, investasi reksa dana, obligasi ritel indonesia

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top