Inalum Serap Saham Treasury Bukit Asam (PTBA)

PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero), induk Holding BUMN Industri Pertambangan, mulai menyerap saham saham treasury atau saham simpanan milik entitas anak PT Bukit Asam Tbk., Rabu (8/5/2019).
M. Nurhadi Pratomo | 08 Mei 2019 14:53 WIB
Menteri BUMN Rini Soemarno (kanan) bersama Dirut PT Inalum (Persero) Budi Gunadi Sadikin (kiri) berada di dalam helikopter sesaat sebelum berangkat dari lokasi pencanangan pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Desa Bukit Batu, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Kamis (4/4/2019). - ANTARA/Jessica Helena Wuysang

Bisnis.com, JAKARTA — PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero), induk Holding BUMN Industri Pertambangan, mulai menyerap saham saham treasury atau saham simpanan milik entitas anak PT Bukit Asam Tbk., Rabu (8/5/2019).

“Iya sudah [mulai penyerapan saham treasury Bukit Asam],” ujar Corporate Secretary Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) Rendi Witular, Rabu (8/5/2019).

Dia belum dapat membeberkan total dana yang dikeluarkan oleh perseroan. Pihaknya akan melakukan pengumuman begitu penutupan.

Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (8/5/2019), terjadi transaksi pembelian saham Bukit Asam sebanyak 418,65 juta oleh Danareksa Sekuritas, 279,74 oleh Bahana Sekuritas, dan 91,95 juta oleh BNI Sekuritas. Total nilai dari ketiga transaksi itu yakni sekitar Rp2,68 triliun.

Seperti diketahui, Bukit Asam memiliki sekitar 567 juta saham treasury atau setara dengan 5% dari total saham yang beredar. Saham simpanan itu akan jatuh tempo pada 23 Mei 2019. 

Secara keseluruhan, emiten berkode saham PTBA itu memiliki saham treasury sebanyak 8,50% dari total saham beredar atau sebanyak 980,28 juta lembar.

Rendi menjelaskan bahwa prospek PTBA dalam jangka pendek akan ditopang oleh penjualan batu bara kalori tinggi sebesar 3,8 juta ton pada 2019. Jumlah itu naik dari produksi tahun lalu yang masih di bawah 1 juta ton.

Dalam penjualannya, PTBA menyasar pasar premium batu bara kalori tinggi. Salah satunya Jepang. “Hingga kini, PTBA telah memegang kontrak jual beli batu bara kalori tinggi ke pasar Srilanka, Taiwan, Filipina, dan Jepang,”

Selain itu, lanjut dia, pembayaran dividen PTBA yang akan dipertahankan di level 75% menjadi pemicu Inalum menaikkan kepemilikan. Prospek jangka panjang entitas anak itu juga berjalan sesuai rencana.

“Sektor hilirisasi akan berjalan sesuai dengan rencana sehingga pertumbuhan pendapatan dan laba tidak lagi bergantung pada penjualan batu bara,” jelasnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bumn, inalum, bukit asam

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup