Saham Treasuri : Bukit Asam (PTBA) Beri Sinyal ke Inalum

PT Bukit Asam Tbk. mengharapkan agar PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) sebagai induk holding pertambangan agar bisa mengambil saham treasuri yang akan dilepas hingga tenggat waktu 23 Mei 2019.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 25 April 2019  |  16:02 WIB
Saham Treasuri : Bukit Asam (PTBA) Beri Sinyal ke Inalum
Direksi PT Bukit Asam Tbk. usai paparan publik di Jakarta, Senin (11/3/2019)./Bisnis - Anitana W. Puspa

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bukit Asam Tbk. mengharapkan agar PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) sebagai induk holding pertambangan agar bisa mengambil saham treasuri yang akan dilepas hingga tenggat waktu 23 Mei 2019.

Berdasarkan laporan dari keterbukaan informasi, PTBA memiliki jatah saham treasuri yang jatuh tempo pada Mei 2019 sebanyak 576,03 juta saham yang jika dikonversikan menjadi sekitar Rp2,33 triliun.

Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin mengatakan memang terbuka opsi bagi Inalum untuk kembali menambah kepemilikan melalui saham treasuri ini. Namun dia belum mau menjabarkan lebih jauh kelanjutan rencana itu, karena kewenangan berada di tangan Inalum.

“Bisa saja mereka [Inalum] menambah lewat saham treasuri karena kami ada stok. Kami berharapnya treasuri bisa diambil oleh Inalum,” katanya Kamis (25/4/2019).

PTBA pada April ini telah menjual kembali sebanyak 63,17 juta saham treasuri yang diperoleh dalam program pembelian pertama dengan pembeli yakni PT BNI Sekuritas dan Bahana Sekuritas yang merupakan pihak terafiliasi dengan perseroan dimana harga penjualan saham treasuri pada Rp4.220 per saham.

PT BNI Sekuritas dan PT Bahana Sekuritas menjadi pembeli pada penjualan tersebut. Kedua sekuritas ini terafiilasi dengan perseroan karena baik langsung maupun tidak langsung dikendalikan oleh pengendali yang sama yakni pemerintah.

Saham treasuri lainnya yang akan jatuh tempo sebesar 73,95 juta saham treasuri atau setara 0,64% dari total saham. Saham tersebut merupakan hasil buyback pada 4 November 2013-13 Desember 2013. Terakhir, sebanyak 330,29 juta saham treasuri atau setara 2,87% dari total saham. Saham tersebut merupakan hasil buyback pada 2 September 2015-1 Desember 2015.

Arviyan menyebut dana pelepasan saham treasuri akan digunakan untuk menambah belanja modal tahun ini yang mencapai Rp6,47 triliun. Dalam rencana belanja modal tahun ini, perseroan berencana menganggarkan Rp1,13 triliun untuk investasi rutin, sisanya Rp5,34 triliun untuk investasi pengembangan.

PTBA memiliki dua proyek utama pengembangan tahun ini. Pertama, proyek gasifikasi di Peranap, Riau yang bekerja sama dengan pertamina sebagai offtaker dimethyl ether (DME) dan air products sebagai penyedia teknologi.Pada awal Februari ini, proyek itu telah mulai pencanangan dan bisa berproduksi pada 2003.

Proyek penghiliran lainnya adalah kerja sama dengan Pupuk Indonesia dan Chandra Asri mengubah batu bara menjadi syngas untuk produksi urea yang direncanakan beroperasional pada 2022.

Di luar itu masih ada proyek PLTU Mulut Tambang Sumsel 8  berkapasitas 2X620 MW di Muara Enim. Kebperlu investasi proyek ini sebesar US$1,8 miliar. PTBA telah membentuk konsorsium bernama PT Huadian Bukit Asam Power, dengan kepemilikan 45%, mayoritasnya dipegang oleh China Huadian Hongkong Company Ltd.

Konstruksinya telah dimulai pada pertengahan tahun lalu dan membutuhkan waktu 42 bulan untukoperasional unit I dan 45 bulan unuk unit II.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bukit asam, kinerja emiten

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup