Rupiah Berhasil Ditutup di Zona Hijau, Terkuat Ketiga di Asia

Rupiah berhasil ditutup menguat pada penutupan perdagangan Selasa (7/5/2019), menjadi terkuat ketiga di klasemen mata uang Asia di tengah ketegangan geopolitik AS dan China.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 07 Mei 2019  |  17:23 WIB
Rupiah Berhasil Ditutup di Zona Hijau, Terkuat Ketiga di Asia
Karyawati Bank Mandiri menghitung mata uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Selasa (12/2/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Rupiah berhasil ditutup menguat pada penutupan perdagangan Selasa (7/5/2019), menjadi terkuat ketiga di klasemen mata uang Asia di tengah ketegangan geopolitik AS dan China.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (7/5/2019) rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,126 % berhasil terapresiasi 18 poin menjadi Rp14.280 per dolar AS.

Seperti diketahui, pemerintah AS akan menaikkan tarif impor China menjadi 25% dari semulanya sebesar 10% dengan nilai mencapai US$200 miliar.

AS mengklaim China telah mengingkari komitmen yang telah dibuat dalam perundingan perdagangan bersama dengan AS. Walaupun demikian, China, yang sebelumnya dikabarkan mempertimbangkan untuk menunda perundingan perdagangan di AS pada Rabu mendatang, mengatakan akan tetap mengirimkan delegasinya ke AS untuk negosiasi perdagangan.

Di sisi lain, dari sentimen dalam negeri, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa saat ini investor kembali percaya diri dengan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih lambat pada kuartal I/2019, hanya naik 5,07% secara year on year.

Adapun, pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan konsensus pasar sebesar 5,19%. Walaupun demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai masih cenderung solid karena tetap berada di atas level 5%.

Saat ini, lanjut Ibrahim, pasar tengah menanti data ekonomi penting Indonesia lainnya yaitu neraca pembayaran Indonesia atau NPI. "Investor akan melihat bagaimana posisi keseimbangan eksternal Indonesia, masih rapuh atau sudah ada perbaikan," ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Selasa (7/5/2019).

Selain itu, pelaku pasar akan mencermati transaksi berjalan Indonesia yang mencerminkan arus devisa dari ekspor-impor barang dan jasa. Jika defisit transaksi berjalan semakin dalam, kemungkinan rupiah akan rentan melemah karena tidak memiliki fondasi yang kuat.

Kemudian, data penjualan ritel yang dirilis oleh Bank Indonesia untuk periode Maret 2019 berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 10,7% secara yoy. "Data ini memberi gambaran bahwa konsumsi rumah tangga masih kuat. Artinya, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan bakal cerah. Sebab, konsumsi rumah tangga menyumbang hampir 60% dari pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional," papar Ibrahim.

Ibrahim memprediksi rupiah melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (8/5/2019) di level Rp14.215 per dolar AS hingga Rp14.360 per dolar AS. 
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top