Menanti Hasil Pertemuan The Fed, Rupiah Dibuka Menguat Tipis

Rupiah dibuka menguat tipis pada pembukaan perdagangan Senin (29/4/2019) seiring dengan pasar yang menanti hasil pertemuan The Fed atau FOMC pada Rabu (1/5/2019) mendatang.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 29 April 2019  |  09:00 WIB
Menanti Hasil Pertemuan The Fed, Rupiah Dibuka Menguat Tipis
Karyawati Bank Mandiri menghitung mata uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Selasa (12/2/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Rupiah dibuka menguat tipis pada pembukaan perdagangan Senin (29/4/2019) seiring dengan pasar yang menanti hasil pertemuan The Fed atau FOMC pada Rabu (1/5/2019) mendatang.

Berdasarkan data Bloomberg, pada pembukaan perdagangan pekan ini, Senin (29/4/2019), rupiah dibuka menguat tipis 0,06% atau turun 9 poin menjadi Rp14.190 per dolar AS. 

Investor saat ini tengah menanti hasil dari pertemuan Bank Sentral AS, The Fed, untuk mencari petunjuk lebih lanjut tentang arah kebijakan dari negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut setelah PDB AS kuartal I/2019 berhasil mencetak pertumbuhan yang kuat sebesar 3,2%.

Namun, inflasi inti AS menunjukkan perlambatan yang tajam sehingga memperkuat spekulasi pasar bahwa The Fed akhirnya akan menurunkan suku bunga pada tahun ini.

"Satu-satunya masalah makro terbesar saat ini menyangkut kebijakan Fed dan apakah inflasi yang lunak ini dapat membenarkan adanya jaminan untuk penurunan suku bunga sekali atau dua kali," ujar analis di JPMorgan dalam catatannya, seperti dikutip dari Reuters, Senin (29/4/2019).

Di sisi lain, pasar Jepang telah memasuki masa libur panjangnya atau Golden Week sehingga menyebabkan penurunan likuiditas pada pasar ini.

Sementara itu, Eropa dan China dijadwalkan untuk merilis data manufakturnya pada akhir pekan ini, bersamaan dengan pembacaan pertama terkait dengan PDB Uni Eropa. 

Laporan payroll AS yang akan dirilis pada Jumat (3/5/2019) diperkirakan akan menunjukkan peningkatan 180.000 untuk periode April, dengan tingkat pengangguran sebesar 3,8%.

Adapun, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim memperkirakan, pergerakan rupiah diprediksi akan kembali tertekan dan bertahan di zona merah pada perdagangan pekan ini.

Berdasarkan data Bloomberg, sepanjang perdagangan pekan lalu, rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terlemah kedua di Asia, telah melemah 1,085% di bawah won yang melemah 2,068% melawan dolar AS.

Rupiah ditutup pada level Rp14.199 per dolar AS, melemah 0,092% atau naik 13 poin melawan dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (26/4/2019). Ibrahim memperkirakan pada perdagangan hari ini, Senin (29/4/2019), rupiah akan diperdagangkan pada level Rp14.142 hingga Rp14.230 per dolar AS. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, Kebijakan The Fed

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top