Tekanan di Pasar Obligasi Masih Bakal Berlanjut

Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan bahwa pagi ini, Jumat (26/4/2019) pasar obligasi akan dibuka melemah dengan potensi melemah. 
Emanuel B. Caesario | 26 April 2019 09:53 WIB
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA — Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan bahwa pagi ini, Jumat (26/4/2019) pasar obligasi akan dibuka melemah dengan potensi melemah. 

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, mengatakan bahwa beberapa obligasi acuan ada yang sudah menembus titik support-nya, sehingga memiliki ruang yang cukup besar untuk terjadinya penurunan kembali. 

Pasar obligasi kembali mengalami tekanan kemarin, sehingga pada akhirnya pasar obligasi mengalami penurunan kembali. Tidak bisa dipungkiri, kemarin merupakan hari yang cukup berat khususnya bagi pasar modal Indonesia. Baik saham maupun obligasi mengalami tekanan yang cukup besar. 

Sentimen akhir pekan ini akan dimulai dari rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia kemarin yang memberikan keputusan untuk mempertahankan tingkat suku bunganya. Bank Indonesia kemarin menyampaikan untuk mendorong pertumbuhan permintaan domestik, mereka juga akan memperluas kebijakannya menjadi lebih akomodatif.

Selain itu, Bank Indonesia juga akan memperkuat eksport agar current account deficit (CAD) dapat diupayakan berada di 2,5% dari GDP. Hasil rapat tersebut, Bank Indonesia juga mengeluarkan enam kebijakan, yaitu, pertama, meningkatkan ketersediaan likuiditas dan mendukung pendalaman pasar keuangan melalui penguatan strategi operasi moneter.

Kedua, mendorong efisiensi pembayaran ritel melalui perluasan layanan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia/SKNBI (penambahan waktu dan percepatan setelmen, peningkatan batas nominal transaksi, dan penurunan tarif).

Ketiga, mendorong sisi supply transaksi Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), khususnya melalui penyederhanaan ketentuan kewajiban underlying transaksi. Keempat, mendorong implementasi penyelenggara sarana pelaksanaan transaksi di pasar uang dan pasar valas.

Kelima, mengembangkan pasar Surat Berharga Komersial (SBK) sebagai alternatif sumber pendanaan jangka pendek oleh korporasi. Keenam, mendorong perluasan elektronifikasi bansos non tunai, dana desa, moda transportasi, dan operasi keuangan pemerintah.

"Kami melihat Bank Indonesia masih tetap mempertahankan sikap kehati hatiannya meskipun The Fed menyatakan tidak akan menaikkan tingkat suku bunga tahun ini, yang di mana seharusnya menjadi sebuah kesempatan bagi Bank Indonesia untuksetidaknya memikirkan untuk menurunkan tingkat suku bunganya," katanya dalam riset harian, Jumat (26/4/2019).

Sementara itu, dari Bank of Japan, mereka juga tidak ada perubahan terkait dengan tingkat suku bunganya, meskipun Bank of Japan sudah mendapatkan panggilan dari anggota parlemen, investor, dan industri untuk lebih fleksibel terhadap target.

Tidak hanya itu saja, mereka juga menyampaikan akan mempertahankan suku bunga pada level rendah saat ini untuk periode yang lebih panjang, yang itu artinya setidaknya hingga musim semi 2020. Itupun dengan proyeksi inflasi 1,1% saja.

Beralih dari sana, Presiden Tiongkok, Xi Jinping akan mempertahankan proyek infrastruktur andalannya yaitu belt and road atau yang lebih dikenal dengan jalur sutera. Sekitar 5.000 peserta dari seluruh dunia akan menghadiri pidato Xi pada hari ini, Jumat pagi di Belt and Road Forum for International Cooperation di Beijing.

Pekan ini juga, Kim Jong Un mengundang Putin untuk membahas lebih lanjut mengenai potensi perdamaian denuklirisasi. "Kami masih merekomendasikan jual hari ini dengan potensi membeli di harga rendah," katanya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, surat utang negara, pasar obligasi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup