Bursa Global Turun Tipis Jelang Rilis Data PDB AS

Bursa saham global turun tipis pada perdagangan sore ini, Jumat (26/4/2019), menjelang rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS).
Renat Sofie Andriani | 26 April 2019 17:02 WIB
Indeks Bursa Eropa - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham global turun tipis pada perdagangan sore ini, Jumat (26/4/2019), menjelang rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Reuters, indeks MSCI All Country World, yang melacak pergerakan saham di 47 negara, turun kurang dari 0,1 persen.

Sementara itu mayoritas bursa saham di Eropa dibuka di zona merah. Hanya indeks DAX Jerman dan CAC Prancis yang membukukan kenaikan. Secara keseluruhan, indeks Stoxx 600 Eropa turun 0,1 persen.

Sebagian besar saham pasar negara berkembang (emerging market) ikut turun dan berada di jalur untuk berakhir di posisi lebih rendah, pertama kalinya dalam empat pekan.

Adapun pelemahan di antara bursa saham Asia memberi sentimen negatif, indeks MSCI untuk negara berkembang pun turun 0,1 persen. Indeks saham di daratan China, Korea Selatan, dan Taiwan turun di kisaran 0,5 persen-1,3 persen.

Fokus pasar saat ini tertuju pada rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk kuartal pertama tahun ini. Rilis serangkaian data ekonomi yang solid telah mendorong para analis merevisi proyeksi mereka untuk pertumbuhan AS.

Perkiraan median terbaru oleh survei Reuters menunjukkan ekspansi sebesar 2,0 persen secara tahunan. Adapun perkiraan PDB dari Atlanta Federal Reserve memproyeksikan ekspansi sebesar 2,7 persen, setelah sebelumnya hanya memperkirakan 0,5 persen.

“Data PDB yang stabil akan memperkuat daya tarik (saham) yang bullish karena kekhawatiran atas resesi akan berkurang. Sebaliknyan, kemungkinan penurunan dapat memicu aksi ambil untung menjelang akhir pekan,” ujar Konstantinos Anthis, kepala penelitian di ADSS.

Rilis data PDB tersebut juga dapat menentukan keputusan suku bunga acuan Bank Sentral AS Federal Reserve pekan depan, dimana investor akan berupaya mengantisipasi bagaimana The Fed merespons sebagian besar indikator data yang kuat.

Indeks dolar AS telah menguat selama beberapa hari terakhir saat investor memperkirakan bahwa ekonomi AS akan mengungguli negara-negara lain.

“Kami pikir dolar AS kemungkinan akan terdepresiasi ketika ekonomi global membaik dan juga ketika investor global menjadi lebih menghindari aset berisiko,” tutur pakar strategi UBS dalam sebuah riset.

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi as, bursa saham

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup