Laba Lippo Karawaci (LPKR) Naik 13,18% pada 2018

Lippo Karawaci (LPKR) membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada 2018 senilai Rp695,14 miliar, naik 13,18% dari posisi Rp614,17 miliar pada 2017.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 27 Maret 2019  |  19:26 WIB
Laba Lippo Karawaci (LPKR) Naik 13,18% pada 2018
Founder Lippo Group Mochtar Riady (kedua kanan) berbincang dengan dengan Ketua Yayasan Wakaf Paramadina Hendro Martowardojo (kedua kiri), CEO PT Lippo Karawaci Tbk John Riady (kiri), Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti Muhammad Dimyati (kedua kanan), dan Rektor Universitas Paramadina Firmansyah (kanan) seusai penandatanganan kerja sama pembangunan masjid dan fasilitas pendidikan Universitas Paramadina Cikarang, di Jakarta, Rabu (27/3/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - PT Lippo Karawaci Tbk. membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada 2018 senilai Rp695,14 miliar, naik 13,18% dari posisi Rp614,17 miliar pada 2017.

Dalam laporan keuangan 2018 Lippo Karawaci yang dirilis pada Rabu (27/3/2019), pendapatan yang dibukukan mencapai Rp12,46 triliun, naik 18,44% dari posisi Rp10,52 triliun.  Beban pokok pendapatan LPKR pada 2018 senilai Rp6,5 triliun, naik 12,26% dari posisi Rp5,79 triliun.

Segmen pendapatan LPKR dari yang terbesar hingga terkecil yakni healthcare, urban development, large scale integrated development, hospitality & infrastructure, properti dan portofolio manajemen serta ritel masing-masing senilai Rp5,96 triliun, Rp3,55 triliun, Rp1,17 triliun, Rp1,06 triliun, Rp451,9 miliar dan Rp367,79 miliar.

Adapun belanja modal untuk masing-masing segmen yakni urban development senilai Rp87 miliar, large scale integrated development senilai Rp16 miliar, ritel mal senilai Rp11 miliar, healthcare senilai Rp798 miliar dan property & portfolio management senilai Rp5 miliar. 

CEO LPKR, John Riady mengungkapkan perseroan tengah memiliki lima sektor yakni kesehatan, properti, ritel, telekomunikasi dan keuangan. Sepanjang 2019, LPKR lebih memilih untuk konsetrasi memperbesar segmen properti dan rumah sakit.

"Kami akan fokus pada segmen properti dan rumah sakit. Strategi yang kami lakukan adalah mengerjakan proyek perumahan urban houses, dan menyelesaikan proyek yang sedang berjalan," ungkapnya saat melakukan kunjungan ke Bisnis Indonesia.

Di sisi lain, beban lainnya LPKR senilai Rp1,9 triliun, naik 6 kali dari posisi Rp306,36 miliar. Pos beban lainnya paling besar berasal dari rugi selisih kurs, denda dan beban garansi sewa masing-masing senilai Rp888,16 miliar, Rp247,38 miliar dan 221,23 miliar.

Nilai aset yang dikantongi LPKR pada 2018 senilai Rp49,8 triliun, turun 12,27% dari posisi Rp56,77 triliun. Aset itu terdiri dari liabilitas dan ekuitas masing-masing senilai Rp24,33 triliun dan Rp25,47 triliun.

LPKR juga akan tengah melakukan pencariaan dana senilai US$1,01 miliar. John menambahkan, sumber dana tersebut sebanyak US$730 juta akan berasal dari right issue dan US$280 juta dari penjualan Lippo Mal Puri ke Reit di Singapura.

Dia mengungkapkan, pendanaan ini merupakan strategi untuk menyelesaikan persoalan likuiditas dan menjaga neraca keuangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, lippo karawaci, lpkr

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top