Konsolidasi Industri Telekomunikasi, Analis Nilai Tidak Mungkin Tahun Ini

Analis menilai kemungkinan konsolidasi antarperusahaan operator telekomunikasi di Indonesia masih belum akan terjadi pada tahun ini. Pasalnya, masih banyak diskusi baik secara antarperusahaan maupun dari sisi kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 21 Februari 2019  |  15:18 WIB
Konsolidasi Industri Telekomunikasi, Analis Nilai Tidak Mungkin Tahun Ini
Model memperlihatkan aplikasi khusus streaming musik dari Smartfren yaitu SmartMusic saat peluncurannya di Jakarta, Minggu (10/2/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Analis menilai kemungkinan konsolidasi antarperusahaan operator telekomunikasi di Indonesia masih belum akan terjadi pada tahun ini. Pasalnya, masih banyak diskusi baik secara antarperusahaan maupun dari sisi kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

PT Indosat Tbk. pun mengaku tidak sedang dalam perundingan untuk berkonsolidasi dengan perusahaan telekomunikasi tanah air lainnya.

President Director and CEO Indosat Chris Kanter menyampaikan, emiten berkode saham ISAT tersebut tidak memiliki pembicaraan untuk konsolidasi baik dengan PT Smartfren Tbk. maupun PT XL Axiata Tbk. “Belum ada pembicaraan juga [dengan Smartfren dan XL],” katanya ketika dimintai konfirmasi Bisnis.com, dikutip Kamis (21/2/2019).

Adapun sebelumnya, Presiden Direktur Smartfren Telecom Merza Fachys menyampaikan dalam paparan publik bahwa emiten berkode FREN tersebut memang tengah dalam perundingan dengan “seluruh” perusahaan operator telekomunikasi di Indonesia.

Katanya, diskusi mengenai konsolidasi itu dilakukan seiring dengan dorongan dari Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) yang ingin mengefisienkan industri telekomunikasi yang dinilai terlalu ramai.

Ketika dihubungi terpisah, Group Head Corporate Communication XL Axiata Tri Wahyuningsih menyampaikan memang sudah menjadi rahasia umum bahwa semua perusahaan operator telekomnikasi telah saling berbicara dengan satu sama lain untuk menggali kemungkinan konsolidasi.

“[Konsolidasi] memang diperlukan oleh industri telco di Indonesia untuk menjadi lebih sehat,” imbuhnya.

Namun demikian, Tri enggan menjelaskan lebih lanjut karena hal itu diklaim sebagai kewenangan para pemegang saham.

Analis Kresna Securities Etta Rusdiana Putra yang mencermati industri telekomunikasi mengaku tidak bisa berkomentar banyak terkait dengan isu konsolidasi perusahaan telco tersebut. Pasalnya, dia menilai ada banyak hal yang mempengaruhi terjadinya merger suatu perusahaan dan merupakan ranah pemilik saham mayoritas.

“Bisa saja mereka bertiga [ISAT, FREN, EXCL] sepakat merger jika pemilik mayoritas setuju,” katanya.

Dia menilai dari sisi teknikal, hal itu memang memungkinkan. Kendati demikian, yang menjadi masalah kemudian adalah level harga dan valuasinya karena hal itu bergantung dengan negosiasi antarpemilik saham mayoritas tadi.

Dengan kealotan perundingan yang memang masih berlangsung, Etta menilai tahun ini belum memungkinkan untuk konsolidasi perusahaan telekomunikasi. Belum lagi, aturan frekuensi yang baru dari pemerintah juga belum keluar. “Dari sisi valuasi, lebih menarik ISAT-EXCL untuk saling bergabung,” imbuh Etta.

Etta pun masih merekomendasikan beli untuk saham EXCL dengan target harga Rp4.000 dan ISAT di target harga Rp2.570. Dirinya berharap ada katalis positif dari laporan keuangan ISAT karena harga sahamnya telah melewati fair value yang diperkirakan.

Saat ini di lantai bursa, saham ISAT diperdagangkan menguat 1,39% pada level Rp3.650, EXCL menguat 0,76% ke level Rp2.640, dan FREN tumbuh 2,11% menjadi Rp290 pada pukul 15.01 WIB.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
smartfren, kinerja emiten

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup