Saham Smartfren (FREN) Melonjak 264% Sejak Awal Tahun, Ini Penjelasan Manajemen

Lonjakan harga saham PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) sepanjang tahun berjalan 2019 diklaim dipengaruhi oleh kepercayaan investor terhadap kinerja perseroan.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 20 Februari 2019  |  17:04 WIB
Saham Smartfren (FREN) Melonjak 264% Sejak Awal Tahun, Ini Penjelasan Manajemen
Direktur Keuangan Smartfren Telecom Antony Susilo, Presiden Direktur Smartfren Telecom Merza Fachys, dan Sekretaris Perusahaan Smartfren Telecom James Wewengkang (dari kiri ke kanan) menyampaikan paparan publik terkait suspensi saham FREN oleh BEI, Rabu (20/2/2019). - Bisnis/Dwi Nicken Tari

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten penyedia layanan telekomunikasi PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) mengklaim lonjakan harga sahamnya sepanjang tahun berjalan 2019 dipengaruhi oleh kepercayaan investor terhadap kinerja perseroan.

Berdasarkan data Bloomberg, saham FREN ditutup melemah 1,39% ke level Rp284. Sepanjang tahun berjalan, saham FREN telah terbang 264,10% dengan kapitalisasi pasar Rp48,6 triliun.

Presiden Direktur PT Smartfren Telecom Tbk. Merza Fachys menyampaikan, nilai saham FREN yang secara konsisten naik sejak awal tahun (year-to-date/ytd) menunjukkan respons pasar yang positif.

“Bukan suatu gejolak atau hal istimewa. Tapi grafik menunjukkan konsistensi nilai atau pasar meresponnya positif, sehingga harganya konsisten meningkat,” ujarnya dalam Paparan Publik di Bursa Efek Indonesia pada Rabu (20/2/2019).

Merza mengakui, belakangan ini pergerakan harga FREN memang meningkat tajam. Akan tetapi, hal itu dinilainya tetap sebagai respons positif dari pasar.
Dia menambahkan, pihak manajemen optimistis dan yakin bahwa performa perseroan pada tahun lalu yang menunjukkan konsistensi pertumbuhan positif akan lebih mendorong kepercayaan dari publik untuk FREN ke depannya.

Adapun, performa FREN pada tahun lalu per kuartal III/2018 diperlihatkan oleh tingkat ARPU (average revenue per use) gabungan yang naik 30% menjadi Rp43.600 dari posisi sebelumnya Rp33.600 pada periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Meskipun secara finansial, korporasi masih belum mendapatkan bottom-line yang positif, tapi indikasi secara industri kami secara konsisten naik,” tuturnya mengacu kepada tingkat ARPU yang konsisten naik sejak 2011 hingga 2017.

Selanjutnya, per September 2018, pendapatan perseroan juga tercatat tumbuh 19%  ke level Rp3,95 triliun yoy dari sebelumnya Rp3,31 triliun.
Demikian pula, marjin EBITDA menunjukkan peningkatan sebesar 30% menjadi Rp761 miliar (margin EBITDA 19%) secara yoy dari sebelumnya Rp413 miliar (marjin EBITDA 12%).

Pada periode tersebut, rugi bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk perusahaan yaitu Rp2,5 triliun, mengecil 11,1% secara yoy. 

Sementara itu, jumlah beban usaha naik 20,37%, dan rugi kurs perseroan melonjak 857,07% ke level Rp573,39 miliar. Merza mengakui tahun lalu memang merupakan periode yang berat bagi industri telekomunikasi. Pada kuartal III2018, hampir seluruh pemain di industri tersebut merasakan tekanan yang sama dari dampak kewajiban registrasi kartu SIM prabayar.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2018 yang dipublikasikan oleh empat emiten telekomunikasi yaitu PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk., PT XL Axiata Tbk., PT Indosat Tbk., dan PT Smartfren Telcom Tbk., seluruhnya memang masih membukukan penurunan laba bersih.

Hanya FREN yang rugi bersihnya mengecil dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. XL Axiata turun paling dalam secara yoy yaitu 160,5% karena perseroan berbalik membukukan kerugian. Di sisi lain, TLKM paling dapat mengantisipasi penurunan kinerja, dengan laba bersih hanya terkoreksi 20,58%.


 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
smartfren, kinerja emiten

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top