Vale SA Umumkan Force Majeure, Bijih Besi Lanjutkan Reli

Harga bijih besi melanjutkan penguatannya setelah penambang Brazil, Vale SA, menyatakan force majeure pada beberapa kontrak bijih besi setelah pengadilan memutuskan untuh memberhentikan operasional pertambangan pascakecelakaan akhir Januari lalu.
Finna U. Ulfah | 06 Februari 2019 21:25 WIB
Seorang pekerja sedang meratakan bijih besi di atas kereta cargo di stasiun kereta Chitradurga, di Karnataka, India (9/11/2012)/Reuters/Danish Siddiqui

Bisnis.com, JAKARTA – Harga bijih besi melanjutkan penguatannya setelah penambang Brazil, Vale SA, menyatakan force majeure pada beberapa kontrak bijih besi setelah pengadilan memutuskan untuh memberhentikan operasional pertambangan pascakecelakaan akhir Januari lalu.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan bursa Singapura Rabu (6/2/2019), harga bijih besi meneruskan penguatannya dengan naik 0,9% menjadi US$86,88 per metrik ton, hampir mencapai level tertingginya sejak Maret 2017.

Harga bijih telah reli sejak kecelakaan bendungan terjadi dan tetap naik meski volume perdagangan terhenti akibat libur Tahun Baru Imlek di sebagian besar pasar, seperti Singapura dan China.

Analis Clarksons Platou Securities Jeremy Sussman mengatakan, setiap perkembangan dari kecelakaan pertambangan akibat runtuhnya bendungan di kawasan pertambangan Feijao akan menjadi sentimen bagi pergerakan harga bijih besi.

“Harga bijih besi cenderung akan terus naik, karena jumlah produksi jelas terpengaruh hingga melampaui sekitar 8 juta ton per tahun dari pertambangan milik Vale SA tersebut,” ujar Jeremy Sussman seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (6/2/2019).

Adapun, raksasa pertambangan Brazil tersebut mengajukan force majeure terhadap beberapa kontrak bijih besi sehari setelah hakim memaksanya untuk memberhentikan secara sementara operasi di pertambangan Vale lainnya di Brucutu, pertambangan terbesar di Minas Gerais.

Pemberhentian tersebut dinilai akan menghasilkan kerugian produksi tahunan hingga mencapai 30 juta metrik ton.

Selain itu, perintah pengadilan tersebut dikeluarkan untuk membantu meningkatkan keselamatan setelah kerusakan fatal salah satu bendungan tailing Vale di kawasan Minas Gerais yang menewaskan lebih dari 130 orang pada 25 Januari 2019.

Kegagalan Vale untuk memenuhi kontrak pasokannya dapat memicu perebutan bahan baku baja di pasar yang sebelumnya sudah terhuyung-huyung setelah Vale mengatakan akan memangkas produksi sebesar 40 juta ton per tahun karena berupaya untuk menopang bendungan yang roboh tersebut.

Sementara itu, saham Vale telah jatuh sekitar 21 persen kecelakaan terjadi. Hal tersebut dimanfaatkan pesaingannya seperti Rio Tinto Group yang memperpanjang kenaikan baru-baru ini ke level tertinggi sejak 2008, dan BHP Group yang mencapai level tertingginya sejak 2014.

Tag : bijih besi
Editor : Gajah Kusumo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top