Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bursa China Melempem Sepanjang 2018, Berharap Stimulus Pemerintah Tahun Depan

Tekad pemerintah China untuk meningkatkan dukungan bagi perekonomian Negeri Tirai Bambu pada 2019 berhasil mendongkrak pergerakan dua indeks saham utamanya tepat satu hari menjelang Natal.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 25 Desember 2018  |  07:06 WIB
Bursa China - Reuters
Bursa China - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Tekad pemerintah China untuk meningkatkan dukungan bagi perekonomian Negeri Tirai Bambu pada 2019 berhasil mendongkrak pergerakan dua indeks saham utamanya tepat satu hari menjelang Natal.

Indeks Shanghai Composite mengakhiri perdagangan Senin (24/12/2018) di zona hijau dengan kenaikan 0,4% ke level 2.527,01, sedangkan indeks blue chip CSI300 ditutup naik 0,3% di level 3.038,20.

Seperti diberitakan Reuters, pemerintah Tiongkok bersumpah untuk meningkatkan dukungan bagi ekonomi negeri ini pada tahun depan di tengah perang dagang yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat (AS).

Menyusul perhelatan pertemuan tahunan yang diikuti para pemimpin tertinggi di China (Central Economic Work Conference/CEWC), kantor berita resmi Xinhua melaporkan bahwa China akan meningkatkan dukungan untuk ekonominya pada 2019 dengan memangkas pajak dan menjaga likuiditas yang cukup.

“Untuk jangka pendek, sinyal dari CEWC dapat memiliki efek menenangkan tertentu pada sentimen pasar. Efek utama akan bergantung pada implementasi kebijakan dan reformasi yang disebutkan dalam konferensi kerja,” papar China International Capital Corporation, dalam risetnya.

Selain itu, pemerintah China juga mengumumkan perubahan tarif untuk beberapa produk impor dan ekspornya, yang akan diberlakukan mulai tahun depan.

Tarif impor untuk komoditas pangan alternatif, termasuk rapeseed meal,cotton meal, sunflower meal, dan palm meal, serta beberapa produk farmasi akan dihapus.

Namun, akan ada lebih dari 700 produk yang dikenakan tarif untuk sementara. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) China juga bakal memberlakukan tarif impor yang relatif rendah untuk mesin pesawat.

Tarif pajak sementara untuk ampas olahan mangan (manganese slag) dan baterai lithium-ion untuk kendaraan berbahan bakar Energi Baru dan Terbarukan (EBT) pun akan dihapus. Sebagai gantinya, akan diterapkan pajak yang lebih ramah.

Di sisi komoditas ekspor, Pemerintah China tidak akan menerapkan tarif untuk 94 produk termasuk pupuk, bijih besi, ampas olahan metal, tar batu bara, dan pulp kayu. Adapun pajak untuk 298 produk teknologi informasi akan dipangkas kembali.

Tekad pemerintah China tersebut seakan menjadi pelipur lara bagi pasar saham China. Kenaikan yang dibukukan kedua indeks saham tersebut pada perdagangan Senin sekaligus mengurangi himpitan tekanan yang dialami beberapa hari berturut-turut sebelumnya.

Pada perdagangan Jumat (21/12/2018), indeks Shanghai Composite berakhir melemah 0,8% atau 20,02 poin di level 2.516,25. Indeks CSI300 bahkan membukukan penurunan lebih dalam yakni 1,24% atau 38,02 poin di posisi 3.029,40, setelah sempat menyentuh level terendahnya dalm 33 bulan.

Sepanjang pekan lalu saja, indeks CSI300 telah melemah 4,3%, penurunan terburuknya sejak awal Oktober, sedangkan indeks Shanghai Composite telah melemah 3%.

“Kelesuan baru-baru ini di dalam pasar saham sebagian disebabkan oleh koreksi tajam yang berkelanjutan di pasar eksternal, khususnya pasar saham AS,” kata Zhu Junchun, seorang analis dari Lianxun Securities.

Bursa saham AS mengalami penurunan tajam dalam beberapa pekan terakhir di tengah kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Indeks S&P 500 berada pada laju untuk penurunan persentase terbesarnya pada Desember sejak masa Great Depression, sedangkan indeks Nasdaq telah jatuh hampir 22% dari level tertingginya yang dicatatkan pada 29 Agustus.

Di antara faktor utama yang membebani pergerakan Wall Street hampir sepanjang pekan lalu adalah sikap bank sentral AS Federal Reserve yang mengindikasikan berlanjutnya penaikan suku bunga pada tahun depan, terlepas dari tanda-tanda pertumbuhan ekonomi global yang tersendat.

The Fed mengerek suku bunga acuannya (Fed Funds Rate/FFR) sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 2,25%-2,50% dalam pertemuan kebijakan moneter yang berakhir Rabu (19/12).

Akan tetapi, bank sentral AS tersebut juga memproyeksikan dua kali penaikan suku bunga pada 2019 dan satu kali penaikan pada 2020.

Pandangan yang diperlihatkan The Fed pun memicu kekhawatiran pelaku pasar mulai dari kawasan Asia hingga Eropa. 

Sejumlah indeks saham utama turun ke level terendahnya dalam dua tahun setelah investor ramai-ramai beralih kepada obligasi pemerintah.

Sentimen ini menambah deretan alasan kekhawatiran para pelaku pasar yang telah terbebani oleh volatilitas pasar sepanjang tahun ini, terutama karena konflik perdagangan antara AS dan China.

Hal ini terindikasi dari tingkat pertumbuhan pendapatan korporasi di AS yang melambat pada kuartal III/2018. Ini menunjukkan bahwa tensi dagang antara AS dan China yang kian mencuat tahun ini mulai berdampak terhadap kinerja perusahaan-perusahaan di Negeri Paman Sam.

Sementara itu, sepanjang tahun berjalan (year-to-date), pergerakan indeks Shanghai Composite telah melorot sekitar 23,9% hingga akhir perdagangan Jumat (21/12). 

Padahal, selama periode yang sama tahun 2017, indeks Shanghai mampu membukukan kenaikan sekitar 6,33%.


Adapun pergerakan indeks CSI300 telah merosot sekitar 24,8% year-to-date hingga akhir perdagangan Jumat.

Capaian ini berbanding terbalik jauh di bawah raihan selama periode yang sama tahun lalu yang mampu mencatatkan kenaikan sebesar 22,89%.

Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global, sengketa dagang antara kedua negara diproyeksikan akan membuat pertumbuhan ekonomi Negeri Panda melambat.

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi China melambat menjadi 6,2% pada 2019, lebih rendah dari proyeksi tahun ini yang sebesar 6,5%. Sebelumnya, IMF juga memangkas proyeksi pertumbuhan negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping ini menjadi 6,2% dari sebelumnya 6,4% untuk 2019.

Meski para pemimpin China dan AS telah mencapai kesepakatan untuk bergenegosiasi dan mengambil jeda pengenaan tarif perdagangan terhadap produk impor masing-masing selama periode 90 hari, masih banyak ketidakpastian mengenai arah dan perkembangan hubungan kedua negara terutama setelah masa itu berakhir.

Sejumlah analis tetap mengemukakan keprihatinannya dan pesimistis atas pergerakan bursa saham China pada 2019. 

Indeks Shanghai Composite mencapai level terendahnya dalam hampir empat tahun pada Oktober. Meski kemudian mampu sedikit pulih, indeks Shanghai tetap hanya berada di separuh level yang dicapainya pada 2015.

"Benar-benar tidak ada banyak dorongan bagi pasar untuk rebound. Sentimen tidak pulih dan tidak ada kapasitas baru. Saya tidak akan terlalu optimistis tentang pasar tahun depan,” kata Zhu Ning, profesor keuangan di Universitas Tsinghua dan wakil direktur National Institue of Financial Research, seperti dilansir dari CNBC.

Pasar saham daratan utama China didominasi oleh investor ritel yang seringkali didorong oleh sentimen. Akibatnya, kinerja pasar tidak selalu berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi.

Namun dalam suatu sistem yang sangat sensitif terhadap kebijakan pemerintah, kinerja saham dapat mengindikasikan bahwa skeptisisme investor terbesar terletak pada saat pemerintah China akan mampu memenuhi janjinya atas stimulus.

Pemerintah AS dan China telah menetapkan awal Maret tahun depan sebagai batas waktu untuk mencapai kesepakatan perdagangan, setelah pada 1 Desember sama-sama sepakat untuk sementara tidak melanjutkan pengenaan tarif.

Maret juga biasanya diisi sejumlah pertemuan kebijakan dan pengumuman penting yang dibuat oleh Kongres Rakyat Nasional atau badan legislatif China dan pertemuan para penasihat dalam Konferensi Konsultatif Politik China.

“Harapan kebanyakan orang adalah bahwa pada paruh pertama tahun depan, beberapa kebijakan yang menguntungkan dapat keluar, beberapa kabar baik, termasuk tentang perdagangan. Dengan begini, pada paruh kedua tahun depan akan ada awal yang baru,” ujar Duo Yuan, pendiri dan ketua Blue Stone Asset Management di Beijing.

Menurut Jennifer Chen Lai, co-portfolio manager untuk Greater China Long/Short Strategy di Dalton Investments, ke depannya saham-saham China bahkan mungkin akan mengalami langkah awal pada pemulihan, relatif terhadap saham-saham AS yang baru saja mencapai wilayah koreksi.

“Tensi perdagangan hanyalah salah satu dari tiga kekhawatiran untuk saham-saham China, dan pemerintah China hanya perlu waktu karena telah berupaya menghadapi dua isu lain yakni kondisi kredit dan sektor swasta,” kata Lai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa asia bursa china
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top