10 Bulan, Produksi CPO ANJT Tumbuh 22,5%

Emiten perkebunan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT) membukukan produksi minyak kelapa sawit (CPO) sejumlah 209.993 ton pada JanuariOktober 2018, tumbuh 22,52% year on year (yoy).
Hafiyyan | 08 Desember 2018 08:05 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten perkebunan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT) membukukan produksi minyak kelapa sawit (CPO) sejumlah 209.993 ton pada Januari—Oktober 2018, tumbuh 22,52% year on year (yoy).

Direktur Keuangan Austindo Nusantara Jaya Lucas Kurniawan menyampaikan, pada 10 bulan pertama 2018 perusahaan menghasilkan Tandan Buah Segar (TBS) sejumlah 661.199 ton, naik 11,23% year on year (yoy) dari sebelumnya 594.414 ton. Produksi CPO juga bertumbuh 22,52% yoy menuju 209.993 ton dari Januari—Oktober 2017 sejumlah 171.392 ton.

“Perkebunan kami di Sumatera Utara I dan perkebunan kami yang baru menghasilkan di Kalimantan Barat melanjutkan tren positifnya dalam produksi,” tuturnya kepada Bisnis baru-baru ini.

ANJT memiliki 4 lokasi perkebunan yakni, 2 di Sumatera Utara, 1 di Belitung, dan 1 di Kalimantan Barat. Perusahaan sebetulnya tengah melakukan replanting di Belitung dan Sumatera Utara I, tetapi produksi TBS keduanya tetap meningkat karena kondisi cuaca yang lebih mendukung.

Sampai akhir 2018, perusahaan optimistis volume produksi TBS dan CPO dapat meningkat dibandingkan pencapaian 2017. Tahun lalu ANJT menghasilkan TBS dan CPO masing-masing sejumlah 730.356 ton dan 210.247 ton.

Sebelumnya perseroan mencanangkan target produksi tahun ini untuk TBS sejumlah 774.567 ton dan CPO 219.284 ton, tetapi estimasi tersebut kemungkinan dapat terlampaui.

Lucas menyampaikan, kendati produksi meningkat perusahaan mendapat tantangan dari pelemahan harga CPO. Oleh karena itu, ANJT memprioritaskan proyek-proyek bersigat strategis seperti Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Papua Barat, dan fasilitas pemrosesan edamame beku di Jember, Jawa Timur.

Pabrik pemrosesan edamame yang menyerap investasi senilai US$6,4 juta diharapkan dapat beroperasi komersial pada awal 2019. Adapun, pengembangan pabrik di Papua dengan investasi US$23 juta ditargetkan rampung pertengahan tahun depan.

Dia menambahkan, untuk menanggulangi dampak penurunan harga CPO, perusahaan dapat menunda pengeluaran modal tanpa mempengaruhi kegiatan operasional secara signifikan. Pengeluaran akan ditunda hingga terjadi perbaikan harga jual CPO.

Per September 2018, ANJT membukukan pendapatan US$110,73 juta, naik 1,58% yoy dari sebelumnya US$109,01 juta. Adapun, perusahaan membukukan rugi bersih US$263.718, berbalik dari sebelumnya laba bersih per September 2017 senilai US$41,51 juta.

Sebetulnya beban pokok perusahaan pada 9 bulan pertama 2018 menurun menuju US$81,09 juta dari sebelumnya US$82,79 juta. Namun, per September 2017 ANJT membukukan penghasilan lain-lain US$61,86 juta, sehingga dapat mengerek laba secara signifikan.

Tag : austindo
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top