Bursa Asia Menguat, Tertopang Spekulasi Suku Bunga AS

Bursa saham Asia mampu naik tipis pada perdagangan pagi ini, Jumat (7/12/2018), saat spekulasi seputar suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat (AS) membantu meredakan sedikit tekanan pekan ini.
Renat Sofie Andriani | 07 Desember 2018 09:20 WIB
Loading the player ...
Pertemuan Dewan Gubernur The Fed 31 Oktober 2018. Video resmi the Fed di Youtube

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia mampu naik tipis pada perdagangan pagi ini, Jumat (7/12/2018), saat spekulasi seputar suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat (AS) membantu meredakan sedikit tekanan pekan ini.

Indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang naik tipis 0,13%, meskipun telah melorot 1,8% pada Kamis (6/12/2018). Adapun indeks Nikkei Jepang berhasil menguat 0.9% pagi ini.

Kekhawatiran atas hubungan perdagangan China dan AS masih meningkat pascapenangkapan Chief Financial Officer (CFO) Huawei Technologies Meng Wanzhou, yang dapat mendinginkan pembicaraan tentang penyelesaian konflik perdagangan antara kedua negara.

Pasar juga menghadapi ujian dari data payroll AS yang akan dirilis hari ini waktu setempat di tengah spekulasi pergolakan ekonomi setelah mampu mengalami pertumbuhan yang solid selama bertahun-tahun.

Gubernur The Fed Jerome Powell, dalam pernyataannya pada Kamis (6/12), menekankan kekuatan pasar tenaga kerja. 

Di sisi lain, para ekonom dalam survei Reuters memproyeksikan peningkatan jumlah pekerjaan sebesar 200.000 pada November setelah mencatat lonjakan sebesar 250.000 pada Oktober.

“Sebuah pandangan telah mengembangkan normalisasi pertumbuhan AS sedikit lebih cepat dari yang diperkirakan akibat 'gejolak' fiskal, sementara tekanan inflasi tetap tertahan mengingat penurunan tajam harga minyak,” kata ekonom National Australia Bank, Tapa Strickland.

“Data payroll akan sangat penting dalam membantu memvalidasi apakah ekonomi memang melambat lebih cepat dari yang diperkirakan,” lanjutnya, seperti dilansir dari Reuters.

Sentimen positif untuk pasar ekuitas terdorong setelah Wall Street Journal melaporkan bahwa para pejabat The Fed sedang mempertimbangkan apakah akan mengisyaratkan sikap wait and see baru setelah penaikan suku bunga yang berpotensi terjadi dalam pertemuan terakhir mereka tahun ini pada Desember.

Hal tersebut menambah spekulasi dalam beberapa waktu terakhir bahwa The Fed sedang mendekati akhir siklus penaikan suku bunganya mengingat kekhawatiran mengenai pertumbuhan global dan dampak disinflasi dari jatuhnya harga minyak.

Kabar itu juga membantu bursa Wall Street mengikis sebagian besar pelemahannya pada awal sesi perdagangan Kamis (6/12) serta mendorong indeks Dow Jones dan S&P 500 berakhir turun tipis. Indeks Nasdaq bahkan mampu ditutup naik 0,42% didongkrak penguatan sejumlah saham teknologi.

Para investor juga mencermati kurva imbal hasil yang bergerak ke posisi paling flat dalam lebih dari satu dekade, sebuah tren yang secara historis menunjukkan perlambatan ekonomi dan bahkan resesi.

“Semacam perataan kurva imbal hasil yang telah kita lihat baru-baru ini biasanya menunjukkan bahwa investor berpikir The Fed mendekati akhir dari siklus pengetatan, dan bahkan mungkin akan datang pemangkasan suku bunga,” kata analis di Capital Economics.

Tag : bursa asia, Kebijakan The Fed
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top