Harga Batu Bara Rebound di Tengah Pelemahan Minyak Mentah

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Januari 2019 ditutup menguat 0,53% atau 0,55 poin di level US$103,85 per metrik ton.
Aprianto Cahyo Nugroho | 05 Desember 2018 07:53 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara ditutup rebound pada akhir perdagangan kemarin, Selasa (4/12/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Januari 2019 ditutup menguat 0,53% atau 0,55 poin di level US$103,85 per metrik ton.

Padahal, batu bara Newcastle sempat dibuka di zona merah degan pelemahan 0,29% atau 0,3 poin ke level US$103 per metrik ton, setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah 0,15% ke level US$103,30.

Di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak Februari 2019 juga ditutup rebound dengan penguatan 0,06% atau 0,05 poin ke level US$85,95 per metrik ton.

Di sisi lain, harga minyak mentah melemah karena keraguan minat Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memperburuk tanda-tanda membengkaknya surplus minyak di Amerika Serikat (AS).

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Januari turun 32 sen ke level US$52,63 per barel pada pukul 4.32 sore waktu setempat di New York Mercantile Exchange, setelah mampu membukukan kenaikan 30 sen dan mengakhiri perdagangan Selasa (4/12/2018) di level US$53,25 per barel.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Februari turun 33 sen ke level US$61,36 per barel di ICE Futures Europe exchange di London, setelah berakhir naik 0,39% di posisi 62,08 pada Selasa.

Dilansir dari Bloomberg, Menteri Energi Saudi, Khalid Al-Falih, sepertinya mundur dari seruan baru-baru ini untuk pengurangan produksi harian sebesar 1 juta barel oleh eksportir-eksportir besar.

Sementara itu, American Petroleum Institute (API) dikabarkan melaporkan lonjakan persediaan minyak mentah, bensin, dan minyak diesel. Stok minyak mentah AS dilaporkan naik 5,36 juta barel pekan lalu, sedangkan persediaan untuk bensin dan minyak diesel juga meningkat berdasarkan perhitungan kelompok industri ini.

Dalam sebuah wawancara di konferensi perubahan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa di Polandia, Menteri Al-Falih mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakan apa yang akan terjadi di Wina.

“Kami perlu berkumpul dan mendengarkan rekan-rekan kami, mendengar pandangan mereka tentang penawaran dan permintaan serta proyeksi produksi negara mereka sendiri,” ujar Al-Falih.

 “Ini bukan sinyal harga yang bagus,” kata Bob Yawger, direktur futures di Mizuho Securities. “Entah permintaan yang buruk atau semua pembicaraan tentang pemangkasan produksi hanyalah wacana.”

Terlepas dari adanya volatilitas, analis di UBS AG mengatakan bahwa mereka mengharapkan pemulihan berkelanjutan untuk minyak mentah pada tahun depan.

“Negara-negara OPEC memiliki insentif yang kuat untuk mendukung pembatasan output yang menentukan,” paparnya dalam riset.

Pergerakan harga batu bara kontrak Januari 2019 di bursa Newcastle

Tanggal                                    

US$/MT

4 Desember

103,85

+0,53%

3 Desember

103,30

-0,15%

30 November

103,45

+1,12%

29 November

102,30

(+1,44%)

28 November

100,85

(+1,36%)

Sumber: Bloomberg

 

Tag : harga batu bara
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top