Arpeni Pratama Ocean Line (APOL) Divestasi Satu Unit Kapal

Emiten pelayaran PT Arpeni Pratama Ocean Line Tbk. melakukan penjualan pada satu unit kapal milik perseroan, yaitu TK APOL 3002. Penjualan ini merupakan yang kedua kalinya yang ditempuh perseroan pada tahun ini.
Dara Aziliya | 27 November 2018 17:34 WIB
Kapal PT Arpeni Pratama Ocean Line - www.apol.com

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten pelayaran PT Arpeni Pratama Ocean Line Tbk. melakukan penjualan pada satu unit kapal milik perseroan yaitu TK APOL 3002. Penjualan ini merupakan yang kedua kalinya yang ditempuh perseroan pada tahun ini.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dipublikasikan perseroan, emiten dengan sandi APOL tersebut menjual kapal TK APOL 3002 dengan harga Rp2 miliar di luar PPN dan pajak lainnya. Pihak pembeli yaitu PT Mandara Putra Bajatama.

“Tidak ada dampak langsung terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, ataupun kelangsungan usaha perseroan mengingat kapal tersebut sudah tidak produktif,” ungkap Sekretaris Perusahaan Arpeni Pratama Ocean Line, Ferdy Suwandi melalui keterbukaan informasi, Selasa (27/11/2018).

Pada awal Oktober lalu APOL juga baru saja melepas penjualan kapal motor tunda atau tugboat KM. Lotus-668 milik entitas anak perseroan kepada pihak ketiga. Alasan penjualannya sama yaitu sudah tidak produktif lagi bagi aktivitas bisnis perseroan.

Ferdy sebelumnya menyampaikan perseroan agresif melakukan efisiensi karena masih menanggung utang yang cukup besar yaitu US$400 juta. Perseroan pun menahan belanja modal karena utang tersebut kian melukai kinerja perseroan pada kondisi pelemahan nilai tukar.

Adapun, pada semester I/2018 perseroan membukukan pendapatan jasa sebesar Rp300,12 miliar, meningkat 18,5% dibandingkan dengan pendapatan yang dibukukan perseroan pada semester I/2017 (yoy).

Pada periode tersebut, perseroan membukukan rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp174,55 miliar, membengkak 193,05% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Salah satu biang kerok tingginya kerugian yang diderita perseroan adalah adanya selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan yang diklasifikasikan ke laba rugi, yaitu sebesar minus Rp126,33 miliar. Hingga 27 November 2018, perseroan belum merilis laporan keuangan kuartal III/2018.

Tag : kinerja emiten, arpeni
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top