Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Analis: Tekanan di Emerging Market Belum akan Reda dalam Waktu Dekat

Tekanan di pasar negara berkembang diprediksi  tidak akan berubah dalam waktu dekat dengan Turki, Argentina, Afrika Selatan, Pakistan, Brazil, dan India menjadi negara-negara yang paling rentan.

Bisnis.com, JAKARTA - Tekanan di pasar negara berkembang diprediksi  tidak akan berubah dalam waktu dekat dengan Turki, Argentina, Afrika Selatan, Pakistan, Brazil, dan India menjadi negara-negara yang paling rentan.

Strategis di Wolfe Reseacrh, termasuk Chris Senyek, bahkan menilai adanya potensi penularan tekanan ke negara-negara lainnya.

Perusahaan yang berbasis di New York tersebut menyatakan, situasi seperti potensi default di Asia, kondisi pasar pinjaman antarbank di Eropa, dan swap credit-default dari perbankan swasta memperlihatkan banyak kesamaan dengan masa krisis emerging market pada 1997.

“Monitor ‘guncangan’ emerging market kami memperkirakan bahwa pelemahan akan menjalar di seluruh negara-negara berkembang yang rentan,” kata Senyek.

Adapun, volatilitas pasar negara berkembang memang selalu merugikan negara-negara yang memiliki fundamental lemah. Argentina yang memiliki inflasi tinggi menjadi negara yang pertama kali kelabakan akibat aksi-jual investor disusul Turki akibat lira yang anjlok di hadapan dolar AS dipicu tensi diplomatik.

Seperti penyakit menular, kini hampir seluruh aset dari Afrika Selatan hingga Brasil dan Indonesia pun terkena pukulan yang sama dari aksi-jual tersebut.

Adapun, fenomena itu telah lebih dikenal oleh investor dan strategis, mulai dari JPMorgan Chase&Co. hingga BlackRock Inc. sebagai “penularan”.

Sederhananya, penularan  yang dimaksud adalah ketika investor cenderung menjual asetnya di seluruh negara berkembang alih-alih hanya menjual asetnya yang aman untuk menutupi kerugian dari aksi-jualnya di negara berkembang yang lebih rentan.

Jika sudah begitu, mentalitas “sekawanan” pun berlaku, yaitu investor tidak peduli lagi dengan imbal hasil potensial yang ditawarkan negara berkembang maupun pengelolaan rsisikonya, mereka beramai-ramai tetap memilih untuk meninggalkan emerging market.

Pablo Goldberg, Pengelola Keuangan di BlackRock Inc., New York, menjelaskan bahwa negara berkembang tengah menghadapi krisis keyakinan dari investor, mengingat laju penularan aksi-jual yang terjadi saat ini.

Untuk itu, dia cenderung menyarankan agar investor beralih ke utang milik negara-negara maju.

 “Sulit untuk mengambil tindakan ketika mata uang bergerak dalam jangka pendek,” katanya.

Sementara itu, mata uang negara berkembang telah turun ke level terendahnya sejak Mei 2017 dipimpin oleh peso Argentina.

Lira Turki dan rupee India juga ikut merosot ke level terendahnya yang baru, begitu pula rupiah Indonesia melemah melebihi levelnya ketika krisis keuangan Asia dua dekade silam.

Hal tersebut pun memperlihatkan bahwa permasalahan kali ini bukanlah tantangan per negara, namun telah menjadi tantangan keseluruhan negara berkembang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Nicken Tari
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper