Bercermin dari SBR003, Pemerintah Perpanjang Masa Pemasaran SBR004

Pemerintah akan memasarkan surat berharga negara (SBN) berbasis tabungan untuk investor ritel atau saving bond retail (SBR) seri SBR004 dengan waktu yang lebih panjang dan strategi yang lebih matang untuk menampung tingginya animo masyarakat terhadap instumen investasi ini.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 20 Agustus 2018  |  18:08 WIB
Bercermin dari SBR003, Pemerintah Perpanjang Masa Pemasaran SBR004
Dirjen DJPPR Kementerian Keuangan Luki Alfirman (kiri) dan Direktur Surat Utang Negara DJPPR Loto Srinaita Ginting (kanan) memberikan konferensi pers usai peluncuran resmi penjualan SBR004 di Bursa Efek Indonesia, Senin (20/8/2018). - Bisnis/Emanuel B. Caesario

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah akan memasarkan surat berharga negara (SBN) berbasis tabungan untuk investor ritel atau saving bond retail (SBR) seri SBR004 dengan waktu yang lebih panjang dan strategi yang lebih matang untuk menampung tingginya animo masyarakat terhadap instumen investasi ini.

Luki Alfirman, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, mengatakan bahwa pemerintah sejatinya merencanakan satu kali penerbitan SBR tahun ini, yakni SBR003 pada Mei lalu.

SBR003 ini merupakan instrumen SBN pertama yang dipasarkan melalui mekanisme penjualan dalam jaringan atau online atau e-SBN. Namun, periode pemasaran SBR003 pada Mei lalu terlalu singkat, hanya sekitar 2 pekan, sehingga jumlah permintaan investor yang masuk hanya Rp1,93 triliun.

Oleh karena itu, pemerintah memutuskan kembali menerbitkan SBR dan memperpanjang waktu pemasaran SBR004 menjadi 4 pekan, mulai hari ini, Senin (20/8/2018) hingga Kamis (13/9/2018). Harapannya, waktu bagi investor untuk mempelajari instrumen ini dan menyiapkan dana menjadi lebih longgar.

“Salah satu evaluasi, masukan dari masyarakat adalah masa penawaran terlalu sempit. Makanya, untuk menampung minat masyarakat tadi, kita putuskan untuk terbitkan sekali lagi tahun ini. Basic-nya sama, tetapi masa penawaran kita perpanjang,” katanya dalam konferensi pers usai peluncuran instrumen ini di Bursa Efek Indonesia, Senin (20/8/2018).

Luki mengatakan, selama masa penawaran seri SBR003 pada Mei lalu, pemerintah mencatat total investor yang teregistrasi mencapai 10.688 investor, tetapi yang merealisikan investasi sebanyak 7.642 investor. Dari jumlah tersebut, 5.683 di antaranya adalah investor baru.

Menariknya, dari 5.683 investor baru tersebut, jumlah investor baru dari kelompok usia muda antara 25 tahun hingga 40 tahun mencapai 2.509 investor atau 44%. Investor berusia di bawah 25 tahun mencapai 561 orang atau 9,9%.

Pemerintah juga menemukan rata-rata nilai pembelian investor ritel pada SBR003 adalah Rp225 juta per investor, turun dari SBR002 yang sekitar Rp300 juta per investor. Luki mengatakan, hal ini menunjukkan bahwa instrumen ini benar-benar terjual pada investor ritel.

SBR003 juga berhasil di pasarkan di seluruh provinsi yang ada di Indonesia, sehingga menunjukkan instrumen ini adalah hak seluruh masyarakat. Lebih unggul dibandingkan deposito, kupon yang dinikmati oleh investor dengan dana kecil maupun dana besar adalah setara, yakni 6,80%.

Adapun, seri SBR004 menargetkan kupon 8,05% sebab suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate yang menjadi dasarnya sudah naik ke posisi 5,50% pekan lalu. DJPPR memberikan premium spread pada instrumen ini sebesar 255 bps atau 2,55% di atas suku bunga acuan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surat utang negara

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup