Mata Uang Asia Variatif, Rupiah Berakhir Melemah

Pergerakan nilai tukar rupiah berakhir melemah pada perdagangan hari ini, Senin (16/7/2018), saat mata uang di Asia bergerak variatif.
Renat Sofie Andriani | 16 Juli 2018 18:17 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah berakhir melemah pada perdagangan hari ini, Senin (16/7/2018), saat mata uang di Asia bergerak variatif.

Rupiah ditutup melemah 16 poin atau 0,11% di level Rp14.394 per dolar AS, setelah dibuka dengan depresiasi 15 poin atau 0,10% di posisi 14.393.

Padahal, performa mata uang Garuda mampu rebound mengakhiri pelemahan selama beberapa hari saat ditutup menguat 12 poin atau 0,08% di level 14.378 per dolar AS pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (13/7/2018).

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp14.387 – Rp14.416 per dolar AS.

Kembali melemahnya rupiah menggarisbawahi bahwa tekanan pada Bank Indonesia (BI) masih belum mereda menjelang pertemuan kebijakan moneternya pada 18-19 Juli pekan ini.

Dilansir Bloomberg, pada Jumat (13/7), BI menyatakan akan menggunakan segala instrumen tersedia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah setelah menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin (bps) dalam kurang dari dua bulan.

“Bank sentral (BI) kemungkinan akan mempertahankan sikap hawkish-nya dan fokus pada stabilitas makro,” tulis pakar strategi Bank of America Merrill Lynch termasuk Claudio Piron dalam risetnya, seperti dikutip Bloomberg.

Mata uang lainnya di Asia terpantau bergerak variatif sore ini, dengan yuan offshore China yang menguat 0,36% memimpin apresiasi di antara sejumlah mata uang Asia. Di sisi lain, won Korea Selatan yang melemah 0,51% memimpin depresiasi beberapa mata uang Asia.

Won melemah di tengah kekhawatiran bahwa perang dagang global akan merugikan ekonomi Korea Selatan, sedangkan mata uang Asia lainnya diperdagangkan variatif.

Laporan Biro Statistik Nasional China (NBS) hari ini mengungkapkan, Produk Domestik Bruto (PDB) China tumbuh 6,7% pada kuartal II/2018 dari tahun sebelumnya, sedikit melambat dari raihan pada kuartal pertama yakni 6,8%.

“Mata uang Asia bergerak variatif dengan bias pelemahan mengingat momentum pertumbuhan China yang lebih lambat,” ujar Ken Cheung, senior Asian FX strategist di Mizuho Bank. “Sentimen secara keseluruhan tetap rentan dengan tensi perdagangan AS-China serta memberi tekanan terhadap prospek pertumbuhan Asia.”

Sementara itu, pergerakan indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melandai 0,16% atau 0,156 poin ke level 94,521 pada pukul 17.15 WIB.

Sebelumnya, indeks dolar dibuka naik 0,015 poin atau 0,02% di posisi 94,692, setelah berakhir di zona merah dengan turun 0,16% atau 0,150 poin di level 94,677 pada perdagangan Jumat (13/7).

Indeks dolar tergelincir saat rebound pada daya tarik aset berisiko mendorong investor untuk melakukan diversifikasi dari posisi panjang pada dolar yang telah tumbuh pesar dalam beberapa pekan terakhir.

Rebound pada daya tarik aset berisiko global hari ini, terlepas dari data ekonomi China yang sedikit melesu, telah meredam kekhawatiran tentang esklasi konflik perdagangan antara Amerika Serikat dan China, serta mendorong mata uang berimbal hasil lebih tinggi.

 

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top