Harga Minyak Siap Catat Penurunan Mingguan Terburuk

Harga minyak bergerak menuju penurunan mingguan terbesar dalam hampir dua bulan saat tensi perang perdagangan yang meningkat antara Amerika Serikat (AS) dan China mengancam pertumbuhan ekonomi.
Renat Sofie Andriani | 13 Juli 2018 08:48 WIB
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak bergerak menuju penurunan mingguan terbesar dalam hampir dua bulan saat tensi perang perdagangan yang meningkat antara Amerika Serikat (AS) dan China mengancam pertumbuhan ekonomi.

Bursa minyak di New York telah turun 4,7% pekan ini setelah Presiden Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif untuk impor tambahan senilai US$200 miliar asal China, sehingga mendorong aksi jual lebih luas pada pasar keuangan.

Sementara itu, Libya bersiap untuk melepaskan ribuan barel per hari ke pasar minyak dalam beberapa hari mendatang saat para anggota OPEC memulai kembali produksi.

Pergerakan harga minyak Brent selanjutnya terpantau turun 0,12 poin ke level US$74,33 per barel pada pukul 07.44 WIB hari ini (Jumat, 13/7/2018), sedangkan WTI bergerak cenderung flat.

Pada akhir perdagangan Kamis (12/7/2018), harga minyak mentah global rebound dari pelemahan terburuk dalam lebih dari dua tahun, di tengah-tengah indikator yang berlawanan tentang apakah persediaan global akan melimpah atau justru menjadi langka.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak Brent untuk pengiriman September 2018 naik 1,43% atau 1,05 poin dan berakhir di US$74,45 per barel di ICE Futures Europe Exchange yang berbasis di London. Minyak mentah acuan global ini diperdagangkan premium US$5,10 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Adapun harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Agustus 2018 turun 0,07% atau 0,05 poin dan berakhir di US$70,33 per barel di New York Mercantile Exchange, level terendah dalam dua pekan. Total volume diperdagangkan sekitar 26% di atas rata-rata 100 hari.

Dilansir dari Bloomberg, kapasitas produksi dunia dapat meregang hingga batasnya saat OPEC dan Rusia mengupayakan untuk menutup penurunan produksi di Venezuela dan Iran, seperti dikemukakan International Energy Agency (IEA).

Peringatan itu namun diredakan oleh upaya Libya untuk meningkatkan output di bidang-bidang yang dikosongkan oleh gejolak politik pada negara untuk cadangan minyak mentah terbesar di Afrika tersebut.

Sementara itu, kontrak Brent jangka panjang mengisyaratkan penyusutan permintaan. Premium dimana Brent diperdagangkan di atas kontrak bulan berikutnya menyempit menuju yang terkecil sejak Mei dan pada satu titik selama sesi benar-benar berubah negatif.

“Hubungan harga seperti itu mengirim sinyal buruk ke pasar bahwa Anda mendapat pasokan yang cukup bagus di depan kurva dan itu mungkin akan bertahan sebentar. Strukturnya sangat bearish,” kata Bob Yawger, director of futures di Mizuho Securities USA Inc., dikutip Bloomberg.

Minyak naik ke level tertinggi tiga tahun dalam beberapa pekan terakhir saat gangguan output global dan sanksi AS yang diperbarui terhadap Iran telah meningkatkan momok atas krisis pasokan.

Jika Arab Saudi mencapai target produksi mereka sebesar 11 juta barel per hari bulan depan, itu akan menjadi peningkatan terbesarnya selama periode dua bulan sejak 2011, kata IEA.

Namun, harga minyak mentah kemudian terjerembap di bursa London dan New York pada akhir perdagangan Rabu (11/7/2018) saat perang perdagangan antara AS dan China meningkat, sekaligus mengancam pertumbuhan ekonomi yang mendukung permintaan energi.

Tag : Harga Minyak, Harga Minyak
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top