Kirana Megatara (KMTR) Tambah 1 Pabrik

Emiten pengolahan karet PT Kirana Megatara Tbk. (KMTR) menargetkan dapat menyelesaikan pembangunan pabrik baru berkapasitas 40.000 ton per tahun.
Hafiyyan | 01 Juli 2018 14:06 WIB
Pengolahan Karet - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA -- Emiten pengolahan karet PT Kirana Megatara Tbk. (KMTR) menargetkan dapat menyelesaikan pembangunan pabrik baru berkapasitas 40.000 ton per tahun.

Corporate Secretary Kirana Megatara Ferry Sidik menyampaikan, sejak 2017 perseroan mengembangkan pabrik pengolahan karet ke-16 di Lampung berkapasitas 40.000 ton per tahun. Keberadaan pabrik baru membuat total kapasitas pengolahan milik perusahaan mencapai 760.000 ton per tahun.

"Diharapkan pembangunan pabrik baru dapat rampung tahun ini," ujarnya kepada Bisnis.com, Kamis (28/6/2018).

Nilai investasi pabrik baru berkisar Rp150 miliar. Adapun, pada 2018 perusahaan mengalokasikan belanja modal Rp200 miliar yang berasal dari kas internal. Sekitar 90% capex sudah terserap pada paruh pertama tahun ini.

Menurutnya, lokasi pabrik KMTR lebih banyak di Sumatra, yakni sejumlah 13 pabrik. Adapun, 3 pabrik lainnya tersebar di Kalimantan Timur.

Pada tahun lalu, utilisasi pabrik mencapai 73,61% dengan total produksi 530.000 ton. Diperkirakan pada 2018 volume produksi naik tipis sekitar 3% menuju 546.000 ton.

Ferry menyampaikan, tipisnya kenaikan produksi disebabkan masih adanya hambatan cuaca, sehingga aktivitas penyadapan karet terganggu. Selain itu, pada kuartal II/2018 banyak libur panjang yang mengurangi operasional kerja.

Tantangan lain yang dihadapi industri karet ialah persoalan fluktuasi harga. Pada awal tahun, KMTR membuat bujet harga karet di level US$1,5 per kg, sehingga pendapatan dapat mencapai Rp12 triliun.

Namun demikian, sepanjang tahun berjalan harga cenderung berfluktuasi di antara US$1,35--US$1,5 per kg. Oleh karena itu, pendapatan KMTR diperkirakan berada pada kisaran Rp11 triliun hingga Rp12 triliun.

"Kami masih berupaya mengejar target Rp12 triliun. Meskipun realisasinya mungkin di bawah itu karena fluktuasi harga karet yang tertekan," ujarnya.

Per Maret 2018, pendapatan perseroan turun 27,27% year on year (yoy) menjadi Rp2,64 triliun dari sebelumnya Rp3,63 triliun. Tahun lalu, penjualan KMTR melonjak 57,42% yoy menuju Rp12,11 triliun.

Dia menambahkan, kendati secara industri tertekan, KMTR tetap berhasil memertahankan posisi sebagai pemain karet terbesar nasional. Perusahaan menguasai pangsa pasar karet ekspor dari Indonesia sebesar 17,5%.

"Sekitar 97% hasil produksi kami memang dilepas kepada pasar ekspor, terutama perusahaan ban terkemuka," tuturnya.

Mayoritas pelanggan adalah 13 perusahaan ban raksasa seperti Bridgestone, Goodyear, Michellin, Hankook, Sumitomo, dan lain-lain.

Pada penutupan perdagangan Jumat (29/6/2018), saham KMTR melorot 18 poin atau 5% menjadi Rp342. Sepanjang tahun berjalan harga menurun 25,97%.

Tag : Kirana Megatara
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top