Perang Dagang AS-China Reda, Kontrak Bursa Hasil Pertanian Merangkak

Harga sejumlah komoditas pertanian untuk kontrak berjangka terutama kedelai dan kapas bergerak naik seiring dengan optimisme bahwa kerja sama dagang China dan Amerika Serikat berpotensi membaik.
Mutiara Nabila | 21 Mei 2018 21:51 WIB
Ilustrasi. - JIBI/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Harga sejumlah komoditas pertanian untuk kontrak berjangka terutama kedelai dan kapas bergerak naik seiring dengan optimisme bahwa kerja sama dagang China dan Amerika Serikat berpotensi membaik.

Pada perkembangan selanjutnya, China bakal membeli produk dari AS dalam jumlah yang lebih banyak, termasuk belanja kedelai, setelah kedua negara itu menyatakan perdamaian ekonomi.

Harga biji-bijian untuk pengiriman Juli naik 2,4% menjadi US$10,22 per bushel dari sebelumnya diperdagangkan pada US$10,14 per bushel. Adapun, komoditas jagung naik 2,75 poin atau 0,68% menjadi US$405,25 per bushel.

Kontrak berjangka untuk gandum naik 3,5 poin atau 0,68% dengan pergerakan harga menjadi US$521,75 per bushel. Sementara itu, harga kapas naik 2,09 poin atau 2,41% menjadi US$88,57 per pon.

Kepala analis Shanghai JC Interlligence Co. Li Qiang mengatakan bahwa China juga diperkirakan akan mendorong pembelian untuk komoditas kapas, jagung, etanol, dan sorgum.

“China kemungkinan akan meningkatkan impor kacang kedelai dari AS yang sebelumnya hanya sekitr 40 juta menjadi 50 juta ton,” ujar, dikutip dari Bloomberg, Senin (21/5/2018).

Sementara itu, AS kini sedang menahan perang dagang di tengah perkembangan hubungan dagang dengan China. Padahal, Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah memberikan ancaman untuk menjatuhkan tarif hingga US$150 miliar untuk impor oleh China.

Hanya saja, sejumlah kebijakan berubah setelah kedua negara merilis pernyataan bersama pada akhir pekan lalu yang menjelaskan bahwa China berjanji akan meningkatkan pembelian barang dan jasa dari AS secara signifikan.

China bahkan menarik keputusan untuk melakukan penyelidikan anti-dumping pada impor sorgum AS pada Jumat (18/5) pekan lalu, sebagai langkah untuk mundur dari konflik dagang yang menyebabkan pasar biji-bijian global bergejolak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas

Sumber : Bloomberg
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top