Harga CPO Global Rendah, Ekspor Sawit Indonesia Tergelincir

Ekspor minyak sawit Indonesia pada Februari 2018 turun 14%, meskipun harga minyak sawit global cukup rendah yaitu sekitar US$652,5US$685 per metrik ton.
Wike Dita Herlinda | 23 April 2018 17:59 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Ekspor minyak sawit Indonesia pada Februari 2018 turun 14%, meskipun harga minyak sawit global cukup rendah yaitu sekitar US$652,5—US$685 per metrik ton.

Menurut laporan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), volume ekspor minyak sawit Indonesia (tidak termasuk biodiesel dan oleochemical) sepanjang bulan kedua 2018 hanya mampu mencapai 2,37 juta ton, turun dari pencapaian Januari sebesar 2,74 juta ton.

“Daya beli yang rendah ini lebih disebabkan adanya liburan hari raya imlek dan juga jumlah hari pada bulan berjalan yang pendek sehingga transaksi dagang tidak maksimal,” jelas Ketua Umum III Gapki Togar Sitanggang dalam laporan bulanan yang dirilis Senin (23/4/2018).

Dia menjelaskan secara tradisi transaksi pada Februari memang lebih sedikit sehingga kinerja ekspor selalu lebih rendah dibandingkan Januari.

Sementara itu, jika dilihat secara year on year (yoy) total volume ekspor dari Januari-Februari 2018 mencapai 5,1 juta ton atau turun 3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 5,3 juta ton.

“Februari ini, negara-negara Timur Tengah mencatatkan kenaikan permintaan sebesar 41% atau dari 148.060 ton di Januari naik menjadi 209.000 ton di Februari. Kenaikan permintaan minyak sawit di negara – negara Timur Tengah merupakan kenaikan biasa karena periode transaksi yang terlihat dari pola bulanan jika pada bulan sebelumnya turun maka bulan berikutnya akan naik.”

Kenaikan permintaan minyak sawit juga dicatatkan oleh China sebesar 6%, atau dari 307.490 ton pada Januari naik menjadi 326.300 ton di Februari. Kenaikan ini kenaikan normal juga karena adanya perayaan imlek.

Sementara ini, negara tujuan utama ekspor lainnya mengalami penurunan. Penurunan yang sangat signifikan dicatatkan oleh Amerika Serikat yakni 50%, atau dari 193.470 ton pada Januari melorot menjadi 95.990 ton di Februari.

“Turunnya permintaan dari Negeri Paman Sam ini karena tingginya stok kedelai di dalam negeri. Penurunan permintaan ini diikuti oleh India 26%, Pakistan 22%, Uni Eropa 17%, Afrika 16% dan Bangladesh 4%,” kata Togar.

Dari sisi produksi, pada Februari 2018 produksi minyak sawit Indonesia kembali membukukan penurunan 2% atau dari 3,4 juta ton pada Januari lalu turun menjadi 3,35 juta ton pada Februari ini.

Penurunan produksi ini merupakan merupakan penurunan normal. Dengan produksi yang masih stabil dan ekpsor yang tidak tinggi, stok minyak sawit Indonesia masih tetap terjaga dengan baik di 3,5 juta di akhir Februari 2018.

Togar mengatakan pada bulan mendatang diperkirakan ekspor akan mulai meningkat terutama ke negara-negar Timur Tengah dan Pakistan dimana negara-negara tersebut sudah mulai menyiapkan stok untuk menyambut Ramadan.

Ekspor ke China juga diperkirakan akan meningkat dengan adanya rencana China untuk menaikan tarrif impor kedelai dari AS sebagai kebijakan balasan dari kebijakan Pemerintah AS yang menaikan tarif impor baja, aluminium, mesin cuci dan panel surya dari China pada perundingan NAFTA.

Tag : minyak sawit
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top