Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Garuda Indonesia (GIAA) Pertahankan Rasio Hedging Avtur 25%

Emiten maskapai milik Negara, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. mempertahankan rasio lindung nilai atau hedging terhadap harga avtur di level 25%27% sepanjang tahun ini. Perseroan terus memantau kondisi pasar untuk dapat meningkatkan rasio hedging tersebut.
Dara Aziliya
Dara Aziliya - Bisnis.com 04 April 2018  |  16:45 WIB
Garuda Indonesia (GIAA) Pertahankan Rasio Hedging Avtur 25%
Garuda Indonesia Travel Fair 2018 - Deandra Syarizka
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten maskapai milik Negara, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. mempertahankan rasio lindung nilai atau hedging terhadap harga avtur di level 25%—27% sepanjang tahun ini. Perseroan terus memantau kondisi pasar untuk dapat meningkatkan rasio hedging tersebut.

Pengeluaran perseroan untuk membeli avtur merupakan beban terbesar yang turut berperan membuat emiten pelat merah tersebut rugi besar pada tahun lalu. Berdasarkan dokumen yang dipublikasikan perseroan, biaya yang dikeuarkan untuk avtur pada 2017 mencapai US$1,15 miliar.

Beban tersebut melonjak 25% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sekaligus berkontribusi hingga 56,6% terhadap total expense Garuda Indonesia pada 2017. Untuk menekan kerugian pada tahun ini, perusahaan berencana menjaga rasio hedging sesuai.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Helmi Imam Satriyono mengungkapkan, perseroan telah meningkatkan volume belanja bahan bakar yang telah dilindung nilai dalam setahun terakhir.

“Pelaksanaan hedging dilakukan, namun dengan memperhatikan kondisi pasar. Rasio yang di-hedging terhadap total konsumsi avtur saat ini kami pelihara di kisaran 25%—27%, meningkat dari level semula pada kuartal II/2017 yang masih 12%—15%,” ungkap Helmi pada Bisnis.com, Rabu (4/4/2018).

Helmi mengungkapkan emiten dengan kode saham GIAA tersebut memantau ketat situasi pasar untuk dapat mengubah rasio hedging. Adapun, pada tahun lalu, Garuda Indonesia membukukan kerugian US$213,4 juta atau jeblok 2.378,6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang positif US$9,4 juta.

Manajemen Garuda Indonesia sempat menyebut kenaikan harga minyak dunia yang sudah mencapai level US$60-an per barel dari US$50 per barel pada 2017, akan ikut mengerek harga avtur. Selain itu, kondisi global masih menyebabkan pergerakan nilai tukar rupiah berfluktuasi.

"Perseroan berharap pada full year 2018 dapat membukukan laba meski triwulan pertama diperkirakan masih ada kerugian. Untuk memperbaiki finansial, perusahaan melakukan beberapa upaya, salah satunya yaitu hedging atau lindung nilai terhadap avtur," ungkap Manajemen melalui prospektus yang dipublikasikan di harian Bisnis Indonesia, belum lama ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

garuda indonesia
Editor : Riendy Astria
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top