Soal Minyak Sawit, Malaysia Ingin Inggris Ikut Lawan Uni Eropa

Malaysia mencari dukungan Inggris untuk membatalkan larangan minyak sawit Uni Eropa dan setuju untuk menandatangani kesepakatan perdagangan bebas pascakesepakatan Brexit.
Eva Rianti | 22 Februari 2018 19:59 WIB
Kelapa sawit. - Bloomberg/Taylor Weidman

Bisnis.com, JAKARTA–Malaysia mencari dukungan Inggris untuk membatalkan larangan minyak sawit Uni Eropa dan setuju untuk menandatangani kesepakatan perdagangan bebas pascakesepakatan Brexit.

Dilansir dari Malaysian Palm Oil Council (MPOC) yang mengutip informasi UK’s The Telegraph, dilaporkan bahwa pejabat senior Malaysia terbang ke London minggu lalu untuk mengingatkan pemerintah Inggris mengenai hubungan dagang yang erat antara kedua negara dan mengisyaratkan sanksi jika larangan tersebut mulai berlaku.

Menteri Perusahaan, Perladangan, dan Komoditas Malaysia Datuk Seri Mah Siew Keong mengatakan bahwa pihaknya menginginkan dukungan Inggris karena memiliki hubungan historis dan hubungan baik yang erat dengan negara-negara persemakmuran.

“Inggris selalu menjadi pendukung perdagangan yang adil dan bebas. Saya mengharapkan dukungan dari pemerintah Inggris karena saya belum pernah mendengar apapun dari mereka mengenai masalah ini," kata Keong dikutip Bisnis.com, Kamis (22/2/2018).

“Kami yakin Inggris akan membantu dalam masalah kelapa sawit ini dan kami akan sangat menghargai jika Inggris membantu,” lanjutnya.

Keong dilaporkan telah memperingatkan bahwa Malaysia tidak memiliki pilihan selain melakukan 'pembalasan' terhadap negara anggota UE seandainya larangan impor minyak sawit pada 2021 diberlakukan.

“Kami berharap akal sehat akan menang. Tapi jika ada situasi di mana minyak kelapa sawit tidak diijinkan masuk, jika kita harus berhenti menjual, saya rasa adil bahwa kita harus melakukan pembalasan,” tegasnya.

Menteri Perdagangan Inggris Liam Fox, yang berkampanye untuk Brexit, dalam pidatonya tentang perdagangan setelah kesepakatan Brexit dengan Malaysia mengatakan bahwa kedua negara memiliki sikap yang sama terhadap perdagangan dan investasi dan lingkungan komersial yang ramah.

Fox mengatakan kedua ekonomi tersebut mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Investasi Malaysia di Inggris telah mencapai tingkat rekor, tumbuh sebesar 200% dari 2011—2016.

Tag : cpo, harga cpo
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top