PROYEKSI IHSG: Pergerakan Dipengaruhi Faktor Domestik Ini

Peningkatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level tertinggi terutama ditopang oleh sentimen domestik. Namun, investor perlu mewaspadai koreksi jangka pendek menjelang rapat Federal Reserve bulan depan.
Hafiyyan | 20 Februari 2018 08:15 WIB
Pengunjung mengabadikan papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham, di Jakarta, Senin (19/2/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA—Peningkatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level tertinggi terutama ditopang oleh sentimen domestik. Namun, investor perlu mewaspadai koreksi jangka pendek menjelang rapat Federal Reserve bulan depan.

Pada penutupan perdagangan Senin (19/2/2018), IHSG meningkat 97,70 poin atau 1,48% menjadi 6.689,28. Sepanjang tahun berjalan, harga naik 5,25%.

Pencapaian indeks ke rekor tertinggi sejalan dengan net buy investor asing sebesar Rp419,67 miliar, setelah 3 pekan berturut-turut cenderung melakukan profit taking. Sepanjang 2018, nasabah nonresiden mencatatkan net sell Rp6,44 triliun.

Vice president Research Department Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya wijaya menuturkan, peningkatan IHSG ditopang sejumlah faktor. Pertama, kembali terjadinya capital inflow setelah sebelumnya investor asing cenderung profit taking.

Kedua, laporan keuangan emiten periode 2017 diprediksi menunjukan kinerja keuangan yang positif, terutama dari kelompok perusahaan berkapitalisasi pasar besar. Ketiga, pulihnya beberapa sektor saham seperti properti, infrastruktur, dan perbankan.

“Di balik itu, investor domestik kian independen. Artinya, kendati investor asing profit taking, indeks tetap naik,” ujarnya, Senin (19/2/2018).

Ke depannya, pelaku pasar memang mengkhwatirkan soal kenaikan suku bunga Federal Reserve. Sentimen ini berpotensi membuat investor asing beralih ke bursa AS.

Seperti diketahui, Fed akan mengadakan rapat pada 21 Maret 2018 untuk membahas kenaikan suku bunga. Konsensus analis di Bloomberg memerkirakan probabilitas pengerekan tersebut sudah mencapai 100%.

Perinciannya, 88% memprediksi Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menuju 1,50%--1,75%. Adapun, 12% lainnya memproyeksi peningkatan sejumlah 50 basis poin menjadi 1,75%--2,00%.

Namun demikian, William berpendapat sentimen kenaikan suku bunga Fed hanya berlangsung sementara. Oleh karena itu, IHSG masih berada di dalam tren bullish.

“Kenaikan suku bunga Fed memberikan dampak, tapi seberapa lama, saya rasa tidak akan terlalu lama,” paparnya.

Tag : IHSG
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top