Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Laporan Nonfarm Payrolls Dirilis, Dow Jones Anjlok Hampir 666 Poin

Kekhawatiran tentang dampak mengetatnya bursa kerja terhadap prospek inflasi berikut lonjakan imbal hasil obligasi, menyeret indeks Dow Jones Industrials Average anjlok hampir 666 poin pada akhir perdagangan Jumat (2/2/2018).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 03 Februari 2018  |  08:07 WIB
Bursa Saham AS Wallstreet - Reuters
Bursa Saham AS Wallstreet - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Kekhawatiran tentang dampak mengetatnya bursa kerja terhadap prospek inflasi berikut lonjakan imbal hasil obligasi, menyeret indeks Dow Jones Industrials Average anjlok hampir 666 poin pada akhir perdagangan Jumat (2/2/2018).

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup anjlok 2,54% atau 665,75 poin di level 25.520,96, penurunan harian terbesar secara persentase dalam 20 bulan sekaligus penurunan harian terbesar secara poin sejak Desember 2008 pada masa krisis finansial.

Adapun indeks S&P 500 merosot 2,12% atau 59,85 poin di level 2.762,13 dan indeks Nasdaq Composite berakhir melemah 1,96% atau 144,92 poin di posisi 7.240,95.

Dengan demikian, tiga indeks saham acuan Amerika Serikat (AS) di bursa Wall Street tersebut mencatat penurunan mingguan terbesar mereka dalam dua tahun, setelah ditutup pada rekor tertinggi pekan sebelumnya. Baik S&P 500 dan Dow Jones mengalami pekan terburuknya sejak awal Januari 2016, sedangkan Nasdaq mengalami pekan terburuk sejak awal Februari 2016.

Seluruh 11 sektor utama pada S&P 500 ditutup turun, dengan sektor teknologi menjadi penekan terbesar. Indeks Volatilitas CBOE, barometer yang menjadi acuan atas perkiraan volatilitas jangka pendek untuk indeks S&P 500, naik lebih dari empat poin menjadi 17,86, tertinggi sejak November 2016.

“Orang mulai benar-benar menjadi semakin tidak nyaman dengan kenaikan suku bunga yang cepat yang telah kita lihat dan ketidakpastian tentang bagaimana hal itu sebenarnya akan mulai relatif mempengaruhi persaingan saham,” kata Chuck Carlson, chief executive officer di Horizon Investment Services, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (3/2/2018).

Pergerakan harga saham turun cepat dalam semalam setelah Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan jumlah pekerjaan tumbuh lebih besar dari yang diperkirakan pada Januari, dengan kenaikan terbesar untuk upah dalam lebih dari 8,5 tahun.

Gambaran pekerja yang mendorong kenaikan gaji tersebut memicu ekspektasi bahwa inflasi sedang meningkat. Ini dapat memacu The Federal Reserve untuk mengambil pendekatan yang lebih agresif dalam hal penaikan tingkat suku bunga tahun ini.

Hal itu menyebabkan imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun melonjak menjadi 2,8450%, tertinggi sejak Januari 2014. Imbal hasil obligasi pun bisa terlihat lebih menarik dibandingkan saham.

Namun pelaku pasar tidak yakin bahwa kondisi bullish pada pasar saham yang membawa S&P 500 naik 5,6% pada Januari telah berakhir.

“Anda melihat laporan pekerjaan yang cukup kuat, semua hal yang memberi sentimen positif terhadap tingkat suku bunga yang lebih tinggi, inflasi yang lebih besar, dan saya pikir pasar mencoba bergulat dengannya saat ini,” tambah Carlson.

Laporan Nonfarm Payrolls

Menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja (Bureau of Labor Statistics) AS, jumlah pekerjaan bertambah lebih besar daripada yang diperkirakan pada Januari 2018. Adapun pertumbuhan upah naik dengan laju tercepatnya sejak resesi.

Data nonfarm payrolls meningkat 200.000 bulan lalu, melampaui perkiraan median dalam survei Bloomberg dengan pertambahan 180.000 pekerjaan baru. Tingkat pengangguran tetap berada di level terendah dalam 17 tahun yakni 4,1%.

Kepegawaian meluas di seluruh industri, termasuk manufaktur dan pertambangan, dua area yang dijanjikan oleh Presiden Donald Trump untuk direvitalisasi.

Sementara itu, tingkat upah tumbuh jauh lebih kuat daripada perkiraan. Rata-rata pendapatan per jam naik 2,9% year-on-year, laju terkuat sejak resesi.

“Bisakah kita melihat pertumbuhan upah menembus 3%? Itu pertanyaan utama untuk beberapa bulan mendatang,” kata Mark Hamrick, analis ekonomi senior di Bankrate.com.

“Jika itu terjadi, maka pasar harus mempertimbangkan apakah ekonomi terlalu panas, sesuatu yang belum dipikirkan sejak krisis keuangan dan resesi,” tambah Hamrick, seperti dikutip Business Insider.

Tingkat upah naik lebih cepat daripada perkiraan dibandingkan dengan bulan Desember. Pendapatan per jam secara rata-rata naik 0,3% month-on-month.

Akselerasi pertumbuhan upah bulan lalu memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya dalam pertemuan kebijakan berikutnya pada Maret, kata Hamrick.

Pertumbuhan upah yang lebih cepat akan mengisyaratkan lebih banyak penguatan terhadap perekonomian, ditambah dengan kebijakan pemangkasan pajak yang diperkirakan akan memberi efek terhadap slip gaji para pekerja Amerika pada akhir Februari.

“Ini pasti membuat The Fed lebih memungkinkan melakukan lebih dari tiga kali penaikan yang direncanakan tahun ini,” kata Luke Bartholomew, seorang pakar strategi investasi di Aberdeen Standard Investments.

Dalam pernyataan pertemuan kebijakan yang berakhir pada Rabu (31/1) waktu setempat, bank sentral AS tersebut menegaskan perkiraan penaikan suku bunga bertahap lebih lanjut. The Fed juga memperkirakakan kenaikan inflasi tahun ini.

“Pernyataan The Fed terhadap laju inflasi yang lebih cepat memberi potensi tiga penaikan pada 2018 dan mungkin meningkatkan prospek untuk yang keempat,” kata Mike Terwilliger, manajer portofolio Resource Liquid Alternatives untuk Resource Credit Income Fund di New York, seperti dikutip Reuters.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dow jones wall street
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top