Kisah Sukses Sopir & Satpam Berinvestasi Saham

Berinvestasi di pasar saham dapat dilakukan oleh siapa saja. Bahkan, seorang sopir dan satpam meraup untung jutaan rupiah dari investasi di pasar modal. Bagaimana kisahnya?
Sukirno
Sukirno - Bisnis.com 05 Desember 2016  |  02:54 WIB
Kisah Sukses Sopir & Satpam Berinvestasi Saham
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA—Berinvestasi di pasar saham dapat dilakukan oleh siapa saja. Bahkan, seorang sopir dan satpam  meraup untung jutaan rupiah dari investasi di pasar modal. Bagaimana kisahnya?

Percaya diri. Ungkapan yang diucapkan oleh Warren Edward Buffet sebagai investor, pengusaha, dan philanthropist asal Amerika Serikat itu mungkin tepat digunakan oleh dua investor individu ini.

"Untuk menjadi investor yang sukses Anda harus melepaskan diri dari ketakutan dan keserakahan orang-orang di sekitar Anda, meskipun hal tersebut sulit. Percaya dirilah dengan kemampuan yang Anda miliki," ujar Buffet.

Dua orang yang Bisnis.com temui pada akhir pekan lalu tidaklah mengenal Warren Buffet. Dua orang itu adalah Aab Abdullah dan Suherman, pemenang ajang MOST Awards 2016 yang digelar oleh PT Mandiri Sekuritas.

Seorang pengemudi Uber mobil bernama Aab Abdullah berusia 49 tahun itu dulunya adalah sopir taksi Blue Bird. Pria beranak satu tersebut bukanlah lulusan sarjana atau ahli trader saham.

Awalnya, dia sopir taksi biasa. Lelaki berpostur sedang dengan kulit sawo matang yang tinggal di Citeureup Bogor itu tidak mengenal dunia pasar modal sama sekali.

Saat mangkal di depan gedung PT Bursa Efek Indonesia sekitar 1,5 tahun silam, dia mendapatkan penumpang dari sana. Sebagai sopir, dia terbiasa mengajak ngobrol penumpang, hingga membahas soal saham.

Penumpang itu dengan telaten menjelaskan seluk-beluk dunia pasar modal. Dia menyarankan Aab untuk memutar siaran radio yang membahas soal saham yang diselingi alunan musik sebagai hiburan di dalam kendaraan.

Sejak saat itu, Aab getol mencari tahu soal saham dan pasar modal. Tak lama berselang, dia kembali mendapatkan penumpang dari gedung Bursa Efek.

Kala itu, di BEI tengah ada acara 'Yuk! Nabung Saham'. Penumpang itu menjelaskan setelah ditanya oleh Aab soal 'Yuk! Nabung Saham' tersebut. Aab disarankan untuk mendatangi acara itu karena keesokan harinya adalah hari terakhir.

Sesuai saran penumpang, Aab akhirnya masuk ke acara 'Yuk! Nabung Saham' di hari terakhir. Dia bingung dengan banyaknya booth dengan nama perusahaan yang tidak dikenalnya.

Sebagai nasabah Bank Syariah Mandiri, dia lalu menuju stand Mandiri Sekuritas. Aab hanya mengenal merek 'Bank Mandiri' sebagai pertimbangan dia mendekat ke gerai Mandiri Sekuritas.

Pertanyaan-pertanyaan Aab soal saham dan investasi di pasar modal dijawab oleh petugas Mandiri Sekuritas. Meski dirinya tidak memahami, Aab hanya mengangguk-angguk saja. Hingga akhirnya dia bertanya cara dan langkah berinvestasi saham.

Saat petugas Mandiri Sekuritas menanyakan telepon selular yang dimiliki oleh Aab untuk memantau pergerakan saham, dia menunjukkan handphone polyphonic yang hanya bisa SMS dan telepon. Aab disarankan untuk membeli smartphone bila ingin memantau pergerakan harga saham dalam investasi.

Tiga bulan berselang, Aab telah memiliki smartphone murah. Dia menelepon petugas dari Mandiri Sekuritas untuk mendaftar sebagai nasabah. Dia juga telah menyiapkan dana Rp3 juta sebagai modal pembukaan rekening nasabah.

Sebulan kemudian, rekening nasabah Aab di Mandiri Sekuritas rampung dibuat. Dia mendapatkan penjelasan dan pesan dari petugas, "Kalau hijau itu jual, merah tahan."

Saham pertama yang dibeli Aab adalah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Dia memborong saham WIKA yang kemudian terus merah selama tiga pekan. Pesan yang disampaikan petugas Mansek agar menahan investasinya saat saham berwarna merah, dipegang teguh oleh Aab.

Tiba-tiba saja, saham WIKA menghijau. Dia kemudian menghubungi broker untuk menjual saham WIKA. Tapi, broker menyarankan untuk menahan sementara, sampai akhirnya dia mendapatkan keuntungan cukup besar dari saham WIKA, Aab lalu melepas saham WIKA dan mendapatkan Rp300.000 dari Rp3 juta sebagai imbal hasil perdana.

Mengawali debut perdana sebagai investor, Aab sakit-sakitan. Dia memutuskan untuk resign sebagai driver Blue Bird. Tapi, Aab justru mendapat protes dari broker Mansek dengan keputusan keluar sebagai pengemudi taksi.

"Investasi saham itu bukan pekerjaan utama, bapak harus punya pekerjaan utama," ujar Aab menirukan broker Mansek saat itu.

Kepalang basah, Aab menganggur selama enam bulan setelah resign dari sopir Blue Bird. Dia rajin ikut kelas pelatihan saham yang diadakan oleh Mansek. Aab kian getol mencari tahu soal investasi di pasar modal.

Dari modal Rp3 juta dan terus top up, Aab akhirnya telah mengantongi keuntungan yang lumayan. Dia kemudian bertemu dengan mitra Uber, layanan taksi berbasis online.

Mitra Uber saat itu menawari dia untuk menjadi pengemudi dengan menggunakan mobil milik rental atau mau menggunakan mobil sendiri. Aab berpikir keras, dia ingin memiliki mobil sendiri biar lebih fleksibel.

Dia berkonsultasi dengan broker Mansek, dan berhitung portofolionya. Akhirnya, Aab menarik dana Rp40 juta dari rekening efek miliknya untuk uang muka membeli mobil.

Mobil Agya adalah pilihannya dengan down payment (DP) Rp40 juta itu. Dia membeli sebelum lebaran tahun ini. Setelah lebaran, dia bergabung dengan Uber sebagai mitra.

Kini, Aab memiliki portofolio di Mandiri Sekuritas sebesar Rp180 juta. Portofolio itu dimiliki setelah 1,5 tahun menjadi investor ritel dan telah ditarik Rp40 juta untuk DP mobil.

"Saya hitung-hitung sebulan bisa dapat untung Rp1 juta, kalau tiga bulan malah pernah sampai Rp20 juta. Saya tidak pernah menarik semua portofolio saham, separuh saja untuk dipindahkan ke saham lain, mesti sabar," tuturnya.

Setali tiga uang, petugas keamanan alias Satuan Pengamanan (Satpam) asal Bandung bernama Suherman juga telah menjadi investor individu yang terbilang sukses. Pria berusia 34 tahun itu tertarik ke dunia pasar modal sejak 2008.

Kala itu, dia mencari tahu apa itu saham, bagaimana investasi saham, dan lainnya, melalui buku-buku dan internet. Kemudian, pada 2011, dia memutuskan untuk menjadi nasabah di Mandiri Sekuritas dengan modal Rp7 juta.

Lelaki lulusan D3 jurusan Administrasi Bisnis di Bandung itu telah bekerja sebagai petugas keamanan gedung sejak 2005. Kini, dia bekerja sebagai satpam di Mandiri Prioritas Bandung.

"Pertama dulu Rp7 juta beli saham semen dan konstruksi. Sekarang keuntungannya dalam tiga hari bisa Rp2 juta, ada juga Rp500.000. Kalau saya dari portofolio 60% buat tabungan, 40% buat trading," kata dia.

Dia pernah mengantongi untung Rp2 juta dalam 3 hari saat membeli saham PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. Waktu itu, dia memborong saham ANTM senilai Rp8 juta, dan langsung untung dalam waktu 3 hari saja.

Kini, portofolio yang dikempitnya melalui rekening nasabah telah mencapai Rp70 juta dari modal awal Rp7 juta. Padahal, nyaris setiap bulan, dia juga menarik dana dari rekening nasabahnya itu untuk keperluan sehari-hari.

Baginya, investasi di pasar modal itu tidak perlu takut. Investasi saham dinilai memberikan kesejahteraan di masa depan, investor individu seperti dia pasti akan mendapatkan berkahnya bila terus belajar berinvestasi.

Direktur Utama Mandiri Sekuritas Silvano Rumantir mengungkapkan pengembangan investor domestik dari sisi ritel menjadi kunci penting untuk kemajuan pasar modal Indonesia. Diharapkan, penghargaan bagi investor individu dapat menumbuhkan minat bagi masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal.

"Para pemenang diharapkan dapat menjadi figur positif bagi lingkungan sekitarnya dan membuktikan bahwa investasi di pasar modal dapat dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat dengan latar belakang yang sangat beragam," kata dia.

Mansek menggelar Mandiri Sekuritas Online Trading (MOST) Awards 2016 untuk nasabah ritel. MOST Award 2016 diberikan untuk 10 kategori pemenang, yaitu MOST High Value Customer, MOST Active Customer, MOST Inspiring Customer, MOST Outstanding RBB Branch, MOST MGM Customer, MOST Trading Challenge Winner, MOST Loyal Customer, MOST Development Program Gallery, dan MOST Influential Customer.

Saat ini, Mansek telah menjadi mitra dari 57.000 nasabah individu dengan pertumbuhan nasabah aktif harian sebesar 47% year-on-year. Hingga Oktober, nilai transaksi harian di Mansek mencapai Rp230 miliar per hari, naik 35% dari Rp180 miliar pada 2015.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saham, investasi

Editor : Andhika Anggoro Wening
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top