IHSG Akhir Tahun: Window Dressing Berpotensi Masih Ada

Tekanan capital outflow terhadap lantai bursa bulan lalu diprediksi bakal berbalik dengan potensi adanya window dressing di sisa tahun ini.
Sukirno | 02 Desember 2016 05:38 WIB
Siluet karyawan di dekat monitor Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia di Jakarta - JIBI/NurulHidayat

Bisnis.com, JAKARTA -Tekanan capital outflow terhadap lantai bursa bulan lalu diprediksi bakal berbalik dengan potensi adanya window dressing pada sisa tahun ini.

Pelepasan portofolio oleh investor asing pada November 2016 menjadi capaian net sell tertinggi sepanjang tahun ini sebesar Rp12,36 triliun. Bulan tersebut juga menjadi koreksi indeks harga saham gabungan (IHSG) terdalam 5,05% sepanjang periode 2016.

Analis PT Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya, menilai aksi window dressing oleh pelaku pasar diproyeksi bakal ada pada Desember 2016. Koreksi yang terjadi pada IHSG sejauh ini terbilang masih wajar.

"Seharusnya masih akan ada window dressing. Sekarang ada pergolakan harga komoditas," tuturnya saat dihubungi Bisnis.com pada Kamis (1/12/2016).

William menilai saat harga komoditas menguat, terjadi perubahan pola aliran dana investasi. Pelaku pasar diperkirakan mengalihkan portofolio dari pasar ekuitas ke komoditas dan mata uang.

Robertus Yanuar Hardy, Kepala Riset PT Reliance Securities Tbk., mengatakan pergerakan pasar sepanjang Desember ini masih akan dipengaruhi oleh keputusan suku bunga dan pernyataan Federal Reserve pada hari Rabu malam (14/12/2016).

Pernyataan itu akan diikuti oleh agenda yang sama dari Bank Indonesia pada keesokan harinya. "Selain kenaikan harga komoditas, sentimen positif juga dapat dipengaruhi oleh prospek beberapa emiten BUMN di bidang infrastruktur dan konstruksi," ujarnya.

Hal itu terjadi pasca-instruksi presiden untuk melakukan sekuritisasi aset BUMN untuk menghimpun dana bagi pembangunan infrastruktur.

Pada 2017, Reliance menyematkan rekomendasi overweight pada sektor komoditas, terutama pertambangan batu bara, mineral, dan perkebunan kelapa sawit (crude palm oil/CPO).

Kepala Riset PT Daewoo Securities Indonesia Taye Shim, pada kesempatan berbeda merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 dan 2017 setelah terpilihnya Donald J. Trump sebagai presiden Amerika Serikat.

Dia merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi 2016 dan 2017 dari 5,2% dan 5,4% menjadi 5,0% dan 5,1%. Namun, bila ditelisik, kebijakan ekonomi Trump persis seperti program Presiden Joko Widodo, terutama terkait deregulasi, pemangkasan pajak, dan peningkatan tarif perdagangan.

Daewoo mengerek proyeksi inflasi dari 5,0% menjadi 5,8% tahun depan. Nilai tukar rupiah direvisi naik dari Rp13.050 per dolar AS menjadi Rp13.500 per dolar AS, naik 3,4% pada 2017. "IHSG terkontraksi 4,9% sejak kemenangan Trump, dan menjadi performa terburuk di dunia."

Investor asing mengamankan aset berisiko di negara berkembang menyusul kemenangan tak terduga Trump. Sejak Pemilu AS, tercatat investor asing telah melakukan aksi jual bersih Rp6,83 triliun yang mayoritas dilakukan di pasar reguler.

Secara terpisah, analis J.P. Morgan Adrian Mowat menurunkan prospek Indonesia menjadi underweight, bersama Korea Selatan, Filipina, dan Meksiko.

Tahun depan, IHSG diproyeksi mencapai level 6.000 dengan MSCI di level 7.000. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi pada 2016 (5,0%), pada 2017 (5,1%), dan 2018 (5,3%).

J.P Morgan memerkirakan nilai tukar rupiah pada tahun depan mencapai Rp14.200 per dolar AS. Ratings outlook Indonesia pada tahun depan tidak berubah.

Tag : IHSG, Indeks BEI
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top