Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Utang Menggunung, Perusahaan CPO Bakrie Tahan Ekspansi

Utang perusahaan perkebunan kelapa sawit milik konglomerat Aburizal Bakrie yang masih menggunung membuat perseroan memilih untuk menahan ekspansi dan merestrukturisasi pinjaman.
Sukirno
Sukirno - Bisnis.com 10 Desember 2014  |  23:48 WIB
 Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—Utang perusahaan perkebunan kelapa sawit milik konglomerat Aburizal Bakrie yang masih menggunung membuat perseroan memilih untuk menahan ekspansi dan merestrukturisasi pinjaman.

Andi Setianto, Direktur PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. mengatakan pada tahun depan, emiten berkode saham UNSP itu menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp100 miliar-Rp200 miliar.

Dana belanja modal yang berasal dari kas internal itu akan digunakan untuk penanaman kebun baru dan perawatan.

Perseroan memang tidak akan banyak melakukan aksi korporasi pada tahun depan. Manajemen UNSP akan berkonsentrasi untuk memperbaiki struktur permodalan dengan cara restruturisasi utang.

Saat ini, utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam setahun telah mencapai Rp4,8 triliun, dan utang jangka panjang mencapai Rp5,6 triliun. Secara keseluruhan, utang UNSP mencapai Rp10,4 triliun.

Ekuitas perseroan yang mencapai Rp4,7 triliun, membuat rasio utang terhadap ekuitas (debt to equty ratio/DER) UNSP mencapai 2,2 kali.

"Bisa aset dijalankan, atau utang dikurangi. Kami masih membicarakan dengan kreditor berapa porsi pengurangan utang," katanya, Rabu (10/12/2014). 

Beberapa waktu lalu, UNSP terancam gagal bayar kupon bunga dari secured equity-linked redeemable notes US$100 juta, manajemen menyodorkan opsi konversi saham bagi pemegang surat utang. Namun, perseroan telah mengajukan proposal untuk pembayaran bunga wesel bayar itu sejak beberapa waktu sebelum jatuh tempo.

Proposal pembayaran utang yang diajukan terdiri dari empat opsi a.l. pelunasan utang secara tunai, penjualan aset, mengubah surat utang menjadi saham, dan melakukan penyesuaian pelunasan utang dengan kemampuan perseroan.

"Kami tidak akan menjual aset, dari opsi tersebut kami lebih memilih untuk mengkonversi surat utang menjadi saham," ujarnya.

Menurutnya, perseroan telah melakukan pembicaraan dengan lender secara proaktif dan intensif. Ditargetkan, negosiasi itu bisa rampung pada kuartal terakhir tahun ini.

Dia mengklaim, hingga saat ini, sejumlah pemegang surat utang mendukung proposal yang diajukan oleh perseroan. Namun, manajemen perusahaan Grup Bakrie itu tetap menghormati pilihan dari para lender.

Diakuinya, keterlambatan pembayaran bunga dari secured equity-linked redeemable notes US$100 juta dengan tingkat bunga 8% itu memang dapat menimbulkan event of default.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

unsp bakrie sumatera plantations
Editor : Nurbaiti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top