Astra Waspadai Dampak Pelemahan Rupiah, Upah Buruh Naik

Lini usaha onderdil kendaraan Grup Astra, PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO) memprediksi pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan upah buruh akan menekan beban operasional perseroan.
Herdiyan
Herdiyan - Bisnis.com 02 Desember 2013  |  15:58 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Lini usaha onderdil kendaraan Grup Astra, PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO) memprediksi pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan upah buruh akan menekan beban operasional perseroan.

Direktur Keuangan Astra Otoparts Darmawan Widjaja menuturkan kondisi tersebut dipastikan membuat kinerja laba bersih perusahaan tertekan.

Menurutnya, kondisi tersebut tampak pada realisasi kinerja Astra Otoparts sepanjang 9 bulan pertama tahun ini.

Meski pendapatannya tumbuh 26% menjadi Rp7,76 triliun, laba bersih perseroan turun 16% menjadi Rp646 miliar pada periode tersebut.

“Pelemahan rupiah menyebabkan beban material bahan baku meningkat karena sebagian besar masih diimpor,” tuturnya, Senin (2/12/2013).

Oleh karena itu, perseroan memilih pasrah menghadapi sisa akhir tahun ini. Dia memprediksi kinerja laba bersih akan melanjutkan tren penurunan, meski pendapatan tumbuh signifikan.

Akan tetapi, perseroan belum merevisi target laba bersih. Astra Otoparts berharap nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dollar AS agar mampu meningkatkan kinerja perseroan.

Menanggapi kenaikan upah buruh, saat ini perseroan meminta agar para pegawai Astra Otoparts untuk memaksimalkan biaya operasional dengan meningkatkan produktivitas dibandingkan dengan sebelumnya.

“Kami harus banyak melakukan kegiatan untuk menambah produktivitas, ekspor angkanya tidak turun, tapi tidak juga tinggi,” tuturnya.

Di tengah menghadapi kondisi makroekonomi yang belum pasti, Astra Otoparts merevisi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini dari rencana semula Rp6 triliun menjadi hanya Rp4,5 triliun hingga Rp5 triliun.

Hal itu disebabkan ada sejumlah ekspansi perusahaan yang tertunda menjadi tahun depan. “Rencana [belanja modal] semula memang Rp6 triliun, tetapi terkadang cash out tidak maksimal karena berbagai faktor,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
astra otoparts, upah buruh, depresiasi rupiah

Editor : Fatkhul-nonaktif

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top