Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Emiten Otomotif, Kenaikan PPnBM Tak Berdampak Signifikan

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana pemerintah menaikkan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) mobil impor dari 75% menjadi 125% - 150% dinilai tidak akan membawa pengaruh bagi kinerja emiten otomotif.
Maftuh Ihsan
Maftuh Ihsan - Bisnis.com 27 Agustus 2013  |  06:35 WIB
Emiten Otomotif, Kenaikan PPnBM Tak Berdampak Signifikan
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana pemerintah menaikkan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) mobil impor dari 75% menjadi 125% - 150% dinilai tidak akan membawa pengaruh bagi kinerja emiten otomotif.

Dalam paket kebijakan insentif fiskal yang disampaikan pada akhir pekan lalu, pemerintah berencana menaikkan PPnBM untuk kendaraan impor dalam bentuk utuh (completely built-up unit/CBU) dengan mesin di atas 3.000 cc untuk berbahan bakar premium dan di atas 2.500 cc yang bermesin disel.

“Kami memperkirakan pajak yang lebih tinggi tidak akan berpengaruh pada penjualan mobil secara keseluruhan,” ungkap Adrian Joezer, Analis PT Mandiri Sekuritas, dalam risetnya, Senin (26/8/3-13).

Menurutnya, porsi penjualan kendaraan yang tergolong dalam kategori tersebut terhadap total penjualan mobil nasional terbilang kecil yakni di bawah 0,5% dari realisasi penjualan pada 2012 dan semester I/2013.

Secara spesifik, riset tersebut menjelaskan dampak dari kebijakan tersebut terhadap kinerja dua emiten otomotif yakni PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) juga tidak signfikan.

“Impor mobil CBU hanya 15% dari total penjualan nasional Astra,” tulisnya dalam riset tersebut.

Selain itu, impor CBU tersebut sebagian besar didominasi oleh mobil bermesin di bawah 2.500 cc seperti Toyota Camry (2.500 cc), Toyota Vios (1.500 cc), Toyota Yaris (1.500 cc), dan Toyota Alphard G dan X A/T (2.400 cc).

Adapun, jumlah kendaraan impor Toyota yang bermesin di atas 3.000 cc juga terbilang kecil yakni Toyota Alphard V/T yang mengusung mesin bertenaga 3.500 cc.

Rahmat Samulo, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor, salah satu produsen otomotif di bawah grup Astra, menuturkan hingga saat ini masih menunggu keputusan resmi pemerintah tentang besaran kenaikan PpnBM untuk mengukur dampaknya terhadap penjualan.

“Hampir 85% mobil Toyota diproduksi lokal. Impor dari Jepang dan Thailand juga kecil sekali. Impor CBU sekitar 15%,” katanya.

Dengan demikian, lanjutnya, dampak kenaikan dari pajak tersebut hanya berlaku pada kendaraan mewah seperti model Alphard dan Landcruiser dengan angka penjualan yang kecil dibandingkan produk lain.

Hingga akhir tahun ini, pihaknya masih optimistis dapat mengejar target penjualan dengan pangsa pasar 36% dari pasar mobil nasional, atau sama seperti capaian pada tahun lalu.

“Kami optimistis dengan target tersebut karena kalau bicara kuantitas agak sulit. Tingkat persaingan meningkat,” ujarnya.

Sementara itu, dampak bagi Indomobil juga tidak signifikan karena jumlah mobil CBU impor yakni merek Audi dan VW juga terhitung kecil yakni di bawah 1% dari keseluruhan penjualan mobil penumpang perseroan.

“Rekomendasi kami masih netral dan akan memantau perkembangan perubahan peraturan ini,” seperti yang dikutip dalam riset Mandiri Sekuritas tersebut.

Mandiri Sekuritas masih merekomendasikan beli bagi saham IMAS dan netral bagi saham ASII dengan target harga masing-masing yakni senilai Rp6.000 untuk Indomobil dan Rp7.300 untuk Astra.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

astra
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top